Nyerinya Nggak Ketulungan, Ini Cara Mengatasi Nyeri Haid pada Endometriosis

ADVERTISEMENT

Nyerinya Nggak Ketulungan, Ini Cara Mengatasi Nyeri Haid pada Endometriosis

Fadilla Namira - detikHealth
Senin, 05 Sep 2022 05:00 WIB
Beautiful young woman lying on bed and holding hands on her stomach.
Nyeri endometriosis (Foto: thinkstock)
Jakarta -

Nyeri akibat haid adalah hal yang wajar. Jadi, wanita tidak perlu khawatir selama hal tersebut masih dalam batas wajar dan tidak mengganggu aktivitas.

Berdasarkan penelitian Incidence Check Kategori Kram Menstruasi dengan sampel 2.000 perempuan yang dilakukan pada September 2017, terbukti bahwa lebih dari 50 persen wanita usia produktif pada sempel tersebut mengalami gangguan nyeri haid.

Biasanya, nyeri haid akan hilang dengan sendirinya selama 1-2 hari dari siklus menstruasi tersebut. Jika tidak nyaman hingga kesulitan untuk fokus, jangan ragu untuk meminum obat pereda nyeri atau dikompres menggunakan penghangat.

Namun, kebanyakan dari masyarakat Indonesia percaya bahwa meminum obat pereda nyeri haid bisa mengalami ketergantungan. Nyatanya hal tersebut tidaklah benar.

"Mitos-mitos yang perlu dihilangkan adalah omongan orang tua tentang nyeri haid. Maaf omongan orang tua memang nomor satu, tetapi kalau masalah haid saya kurang setuju. Jadi, kalau orang tua ngomong 'nyeri haid jangan minum obat nanti ketergantungan', justru itu salah. Kalau ada nyeri kita harus hilangkan nyerinya," tutur dr Mohammad Haekal, SpOG pada acara talkshow di Brawijaya Hospital Antasari, Jumat (2/9/2022).

Lebih lanjut, ia berkata bila dibiarkan akan berbahaya karena otak bisa merubah batas toleransi dari intensitas penerimaan rasa sakit. Hal itu juga bisa menimbulkan penyakit berbahaya lainnya, seperti endometriosis.

Nyeri haid yang disebabkan oleh endometriosis berbeda dengan nyeri pada umumnya. Efeknya jauh luar biasa sampai mengganggu aktivitas sehingga perlu pertolongan pertama untuk mengatasinya.

"Tetap pengobatannya dengan terapi anti nyeri plus dengan obat hormonal. Apakah dia akan dikasih obat hormonal terus untuk menangani nyerinya? Nah itu tergantung diagnosis yang kita lakukan dengan diagnosis tambahan, seperti USG atau MRI," jelas dr Malvin Emeraldi, SpOG dari Brawijaya Antasari pada kesempatan yang sama.



Simak Video "Wanita Menstruasi Aman dari Gagal Jantung, Benarkah? "
[Gambas:Video 20detik]
(up/up)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT