Tanda-tanda Usus Kotor, Bikin Pencernaan Jadi Terganggu

ADVERTISEMENT

Tanda-tanda Usus Kotor, Bikin Pencernaan Jadi Terganggu

Fadilla Namira - detikHealth
Kamis, 15 Sep 2022 15:11 WIB
usus besar
Tanda-tanda usus kotor (Foto: ilustrasi/thinkstock)
Jakarta -

Usus punya peran utama dalam saluran pencernaan. Ia tidak hanya mengolah makanan yang telah dikonsumsi, tetapi menyerap nutrisi dan zat mikrobiom lain pada olahan tersebut. Mikrobiom bisa jadi baik atau buruk bagi kesehatan. Bila tidak seimbang, tubuh akan mengirimkan sinyal tanda-tanda usus kotor penyebab penyakit.

Dikutip dari Healthline, mikrobiom mengacu pada mikroorganisme yang hidup di usus manusia. Setiap orang memiliki sekitar 200 spesies bakteri, virus, dan jamur di saluran pencernaan. Bila spesies buruk berkembang lebih banyak, usus menjadi tidak sehat. Akhirnya, ia menjadi penyebab dari beberapa risiko penyakit berbahaya, termasuk autoimun, gangguan endokrin, gangguan mental, penyakit kardiovaskular, dan kanker. Lantas, bagaimana kita mengetahui usus bekerja secara normal dan sehat?

"Usus yang sehat biasanya berfungsi dengan baik ketika buang air besar satu hingga dua kali sehari dengan bentuk yang baik dan mudah dikeluarkan," kata Rosia Parrish, ND, seorang dokter naturopati yang berbasis di Boulder, Colorado. Tanda-tanda lain dari usus yang sehat termasuk bebas dari penyakit pencernaan, seperti wasir, kembung, dan sakit perut.

Tanda-tanda Usus Kotor

Berikut ini adalah tanda-tanda usus kotor penyebab penyakit, seperti dikutip dari Everydayhealth:

1. Sakit Perut

Sakit perut yang disebabkan oleh kelebihan gas, kembung, diare, dan sembelit bisa menjadi gejala sindrom iritasi usus besar atau Irritable Bowel Syndrome (IBS).

Menurut sebuah studi pada Juli 2018 di Nutrition Today, ketidakseimbangan bakteri dalam usus disebut disbiosis. Ia berperan dalam pengembangan IBS bagi sebagian orang.

2. Sering Kelelahan

Kelelahan berlebihan dalam jangka panjang tanpa ada faktor tertentu merupakan salah satu tanda dari usus kotor. Laporan hasil penelitian pada April 2017 di jurnal Frontiers in Microbiology, menemukan bahwa orang dengan sindrom kelelahan kronis memiliki ketidakseimbangan dalam mikrobiom usus. Selain itu, para peneliti mendapati hampir setengah dari orang-orang dengan kelelahan kronis juga menderita IBS.

3. Makan Terlalu Banyak

Mengonsumsi terlalu banyak makanan, apalagi dengan kadar gula berlebih dapat menyebabkan penimbunan bakteri jahat di usus (disbiosis). Studi pada Agustus 2014 di jurnal Bioessays, menyebutkan salah satu cara untuk mengubah kebiasaan makan adalah dengan mengubah struktur mikroorganisme pada usus. Jadi, secara perlahan cobalah pola makan sehat dengan banyak mengonsumsi sayur dan buah.

4. Perubahan Berat Badan

Dalam jurnal Nutrition Today yang ditulis pada Juli 2016, para ahli menemukan perbedaan senyawa di usus orang kurus dan obesitas. Dalam jurnal tersebut disebutkan bahwa pola makan gaya barat (western style) yang tinggi lemak dan karbohidrat dapat meningkatkan bakteri usus dan berdampak dengan obesitas.

Selain itu, obesitas meningkatkan risiko penyakit usus sehingga mengganggu kemampuan tubuh untuk menyerap nutrisi, mengatur gula darah, dan menyimpan lemak. Namun perlu digarisbawahi, penurunan berat badan yang tidak wajar dapat dipicu oleh malabsorpsi karena pertumbuhan berlebih bakteri usus kecil atau Small Intestinal Bacterial Overgrowth (SIBO).

5. Iritasi Kulit

Menurut studi tahun 2018 yang diterbitkan di jurnal Frontiers in Microbiology, ternyata ada keterkaitan antara usus yang tak sehat dan masalah kulit seperti jerawat, psoriasis dan eksim. Hal tersebut disebabkan oleh mikrobioma usus yang mempengaruhi kulit melalui mekanisme kekebalan yang kompleks.

Akan tetapi, jumlah probiotik dan prebiotik yang seimbang dapat membantu kerja usus. Dengan begitu, ia bisa mencegah atau mengobati masalah kulit yang meradang.

6. Alergi

Usus yang tidak sehat mempunyai peran kompleks dalam kondisi alergi, termasuk alergi pernapasan, alergi makanan, dan alergi kulit. Dengan demikian, senyawa jahat dalam usus dapat mempengaruhi nutrisi, kulit, bahkan paru-paru.

7. Perubahan Suasana Hati

Sudah jadi peristiwa biasa jika makanan yang disantap membawa rasa senang pada hati manusia. Hal itu dikarenakan ada hubungan erat antara saluran pencernaan dan otak sehingga manusia bisa merasakan perubahan suasana hati.

Namun, terlalu banyak mengonsumsi makanan tidak sehat malah membawa penyakit mental, seperti depresi. Hal ini dikemukakan dalam jurnal Clinics and Practice pada 2017. Mereka menulis gangguan usus dan peradangan pada sistem saraf pusat menjadi penyebab potensial kecemasan dan depresi. Akan tetapi, makanan dan minuman yang tinggi probiotik dapat membantu mengobati kondisi ini.

Ahli medis tidak bosan-bosannya memberikan anjuran kepada masyarakat untuk mencukupi gizi tubuh dengan mengonsumsi pola makan yang sehat. Sebab, tanda-tanda usus kotor di atas sebagian besar berasal dari makanan. Bagaimana tidak? Asupan makanan adalah sumber utama kebutuhan manusia untuk bisa menjalankan aktivitas sehari-hari sehingga memungkinkan untuk ia jadi langkah awal dari timbulnya berbagai penyakit.



Simak Video "Spanyol Berhasil Lakukan Transplantasi Usus Bayi Pertama di Dunia"
[Gambas:Video 20detik]
(suc/suc)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT