RI Catat 2.358 Kasus Baru COVID-19 16 September, Meninggal 27

ADVERTISEMENT

RI Catat 2.358 Kasus Baru COVID-19 16 September, Meninggal 27

Vidya Pinandhita - detikHealth
Jumat, 16 Sep 2022 16:29 WIB
Anggota Palang Merah Indonesia (PMI) melakukan disinfeksi di kawasan padat penduduk Tanah Tinggi, Jakarta, Sabtu (5/2/2022). Penyemprotan cairan disinfektan dilaksanakan untuk mengantisipasi penyebaran dan mencegah penularan COVID-19. ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat/rwa.
Foto: ANTARA FOTO/M RISYAL HIDAYAT
Jakarta -

Indonesia mencatat 2.358 kasus baru COVID-19 hari ini, Jumat (16/9/2022). Seiring itu, terdapat kasus sembuh sebanyak 2.997 dan 27 orang meninggal dunia akibat COVID-19.

Baru-baru ini, Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Tedros Adhanom Ghebreyesus, menyebut akhir pandemi COVID-19 sudah di depan mata. Namun begitu, upaya penanganan COVID-9 termasuk vaksinasi masih harus digencarkan agar kondisi kini tak malah menjadi peluang munculnya varian Corona baru.

"Pekan lalu, angka kematian akibat COVID-19 mingguan yang terlaporkan adalah yang terendah sejak Maret 2020. Kita belum pernah ada di posisi sebaik ini dalam upaya mengakhiri pandemi COVID-19. Kita belum tiba di sana (akhir pandemi COVID-19), tapi akhir pandemi sudah di depan mata" ujarnya, dikutip detikcom dari laman Twitter resmi@DrTedros, Jumat (16/9).

"Jika kita tidak mengambil kesempatan ini sekarang, ada risiko untuk varian baru, lebih kematian, lebih banyak kerusakan, dan lebih banyak ketidakpastian. Jadi mari kita gunakan kesempatan ini," pungkas Tedros.

Menanggapi itu, Ketua Satgas COVID-19 Ikatan Dokter Indonesia (IDI) sekaligus spesialis paru RS Persahabatan dr Erlina Burhan, SpP(K) menegaskan, situasi COVID-19 tidak bisa diprediksi sehingga warga tak boleh bereuforia menanggapi pernyataan WHO tersebut.

"COVID-19 itu unpredictable banget. Situasinya dinamis sekali. Dulu tahun lalu sekitar akhir tahun kita juga merasa kita akan segera endemi, sudah mulai turun (kasus COVID-19). Bahkan saya ingat itu jumlah kasus kita harian di bawah 300," ujarnya dalam acara 'Pentingnya Vaksinasi Booster dalam Melindungi Masyarakat dari Akibat Serius Penyakit COVID-19 Termasuk Rawat Inap dan Kematian', Kamis (15/9).

"Tiba-tiba muncul Omicron. Januari-Februari (kasus COVID-19) naik lagi. Bahkan puncaknya melebihi Delta. Kalau Delta puncaknya 54 ribuan, kalau Omicron itu 60 ribuan," pungkas dr Erlina.



Simak Video "Satgas Covid-19: Kita Perlu Berhati-hati dalam Memaknai Akhir Pandemi"
[Gambas:Video 20detik]
(vyp/vyp)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT