Daftar Penyakit Akibat Gula Berlebihan, Nggak Cuma Diabetes

ADVERTISEMENT

Daftar Penyakit Akibat Gula Berlebihan, Nggak Cuma Diabetes

Suci Risanti Rahmadania - detikHealth
Senin, 26 Sep 2022 13:16 WIB
Plastic glasses of iced grapefruit green tea, oolong tea,  dark cocoa with layer of cream cheese foam ; Traditional Chinese Beverage. Selective focus.
Ilustrasi Es Teh. Daftar penyakit akibat gula berlebihan ( (Foto: Getty Images/iStockphoto/Theerawan Bangpran))
Jakarta -

Penyakit akibat gula berlebihan rupanya tidak hanya diabetes. Masih ada beberapa penyakit serius lainnya akibat seseorang terlalu banyak mengonsumsi gula. Hal ini patut diperhatikan lantaran gula tak bisa dilepaskan dari makanan dan minuman sehari-hari banyak orang.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) awalnya merekomendasikan tidak lebih dari 10 persen asupan kalori harian seseorang dari gula. Kemudian pada 2015 muncul rekomendasi baru, bahwa konsumsi gula sebaiknya tidak lebih dari 5 persen dari asupan kalori harian, yakni kira-kira setara dengan sekitar 25 gram atau enam sendok teh per hari.

Namun, gula tidak hanya bisa didapat dari konsumsi gula pasir. Berbagai makanan atau minuman yang kita konsumsi terkadang sudah mengandung gula dalam kadar tinggi, seperti nasi putih, es krim, soda, hingga permen semuanya mengandung gula. Rasanya yang manis tentu menjadi daya tarik paling utama. Hal itu pun bisa menyebabkan kita mengonsumsi gula berlebih.

Lantas, penyakit apa saja yang disebabkan oleh konsumsi gula yang berlebihan? Simak informasinya berikut ini.

Penyakit Akibat Gula Berlebihan

Dikutip dari Medical News Today dan Healthline, berikut penyakit serius akibat gula berlebihan:

1. Kerusakan Gigi

Gula memberikan makan bakteri yang hidup di mulut. Ketika bakteri mencerna gula, mereka menciptakan asam sebagai produk limbah. Asam ini dapat mengikis enamel gigi hingga menyebabkan lubang atau gigi berlubang.

Menurut Action on Sugar, bagian dari Wolfson Institute di Preventive Medicine di Inggris, orang yang sering makan makanan manis, terutama mengonsumsinya pada waktu makan sebagai camilan atau minuman manis, lebih mungkin mengalami kerusakan gigi.

2. Obesitas

Gula tambahan dari minuman manis, seperti soda, jus, dan teh manis dianggap sebagai salah satu penyebab utama. Pasalnya di dalam minuman tersebut mengandung fruktosa, sejenis gula sederhana. Mengkonsumsi fruktosa dapat meningkatkan rasa lapar dan keinginan seseorang untuk makan. Selain itu, konsumsi fruktosa yang berlebihan juga dapat menyebabkan resistensi terhadap leptin, hormon penting yang mengatur rasa lapar dan memberitahu tubuh untuk berhenti makan.

Dengan kata lain, minuman manis tidak menahan rasa lapar, justru membuat seseorang menginginkan konsumsi kalori cair dalam jumlah besar. Hal ini dapat menyebabkan penambahan berat badan.

Penelitian secara konsisten menunjukkan bahwa orang yang minum minuman manis, seperti soda dan jus, memiliki berat badan lebih banyak daripada orang yang tidak mengonsumsinya.

3. Diabetes Tipe 2

Prevalensi diabetes di seluruh dunia telah meningkat lebih dari dua kali lipat selama 30 tahun terakhir. Meskipun banyak alasan untuk hal ini, tetapi ada hubungan yang jelas antara konsumsi gula yang berlebihan dan risiko diabetes.

Obesitas, yang sering disebabkan oleh terlalu banyak mengonsumsi gula dianggap sebagai faktor risiko terkuat untuk diabetes. Terlebih lagi, konsumsi gula tinggi yang berkepanjangan mendorong resistensi terhadap insulin, hormon yang diproduksi oleh pankreas yang mengatur kadar gula darah.

Resistensi insulin menyebabkan kadar gula darah naik dan sangat meningkatkan risiko diabetes. Sebuah studi populasi yang melibatkan lebih dari 175 negara menemukan bahwa risiko diabetes berkembang sebesar 1,1 persen untuk setiap 150 kalori gula, atau sekitar satu kaleng soda, yang dikonsumsi per hari.

Penelitian lain juga menunjukkan bahwa orang yang mengonsumsi minuman yang dimaniskan dengan gula, termasuk jus buah, lebih mungkin mengembangkan diabetes.

4. Penyakit Jantung

Diet tinggi gula telah dikaitkan dengan peningkatan risiko berbagai penyakit, termasuk penyakit jantung yang menjadi penyebab kematian nomor satu di dunia. Bukti menunjukkan bahwa diet tinggi gula dapat menyebabkan obesitas, peradangan dan trigliserida tinggi, kadar gula darah dan tekanan darah. Faktor-faktor tersebut dapat memicu penyakit jantung.

Selain itu, mengonsumsi terlalu banyak gula, terutama dari minuman yang dimaniskan dengan gula, telah dikaitkan dengan aterosklerosis, penyakit yang ditandai dengan lemak, endapan penyumbatan arteri.

Sebuah studi di lebih dari 30.000 orang menemukan bahwa mereka yang mengonsumsi 17-21 persen kalori dari tambahan gula memiliki risiko 38 persen lebih besar untuk meninggal akibat penyakit jantung, dibandingkan dengan mereka yang hanya mengonsumsi 8 persen kalori dari tambahan gula.

5. Kanker

Makan gula dalam jumlah berlebihan dapat pula meningkatkan risiko seseorang terkena kanker tertentu. Sebab diet kaya makanan dan minuman manis dapat menyebabkan obesitas yang secara signifikan meningkatkan risiko kanker. Juga, diet tinggi gula dapat meningkatkan peradangan di tubuh dan bisa menyebabkan resistensi insulin, yang keduanya meningkatkan risiko kanker.

Sebuah studi di lebih dari 430.000 orang menemukan bahwa konsumsi gula tambahan dikaitkan secara positif dengan peningkatan risiko kanker esofagus (kerongkongan), kanker pleura, dan kanker usus kecil.

Studi lain menunjukkan bahwa wanita yang mengonsumsi roti manis dan kue lebih dari tiga kali per minggu, 1,42 kali lebih mungkin terkena kanker endometrium daripada wanita yang mengonsumsi makanan ini kurang dari 0,5 kali per minggu.

Penelitian tentang hubungan antara tambahan asupan gula dan kanker sedang berlangsung, dan diperlukan lebih banyak penelitian untuk memahami sepenuhnya mengenai hubungan kompleks ini.

6. Fatty Liver

Penyakit akibat gula berlebihan yang terakhir adalah fatty liver atau perlemakan hati. Asupan fruktosa yang tinggi secara konsisten dikaitkan dengan peningkatan risiko penyakit tersebut.

Tidak seperti glukosa dan jenis gula lainnya, yang diambil oleh banyak sel di seluruh tubuh, fruktosa hampir secara eksklusif dipecah oleh hati. Di hati, fruktosa diubah menjadi energi atau disimpan sebagai glikogen.

Namun, hati hanya dapat menyimpan begitu banyak glikogen sebelum jumlah berlebih diubah menjadi lemak. Sejumlah besar gula tambahan dalam bentuk fruktosa membebani hati, menyebabkan penyakit hati berlemak non-alkohol (NAFLD), suatu kondisi yang ditandai dengan penumpukan lemak yang berlebihan di hati.

Sebuah studi di lebih dari 5.900 orang dewasa menunjukkan bahwa orang yang minum minuman manis setiap hari memiliki risiko 56 persen lebih tinggi mengembangkan NAFLD, dibandingkan dengan orang yang tidak melakukan hal tersebut.



Simak Video "Dokter Bicara soal Takaran Gula Ideal untuk Tubuh"
[Gambas:Video 20detik]
(suc/naf)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT