Tragedi Sepak Bola di Peru Berulang di Malang: Gas Air Mata Berujung Petaka

ADVERTISEMENT

Tragedi Sepak Bola di Peru Berulang di Malang: Gas Air Mata Berujung Petaka

Mochammad Fajar Nur - detikHealth
Minggu, 02 Okt 2022 11:07 WIB
Police officers and soldiers stand amid tear gas smoke after clashes between fans during a soccer match at Kanjuruhan Stadium in Malang, East Java, Indonesia, Saturday, Oct. 1, 2022. Panic following police actions left over 100 dead, mostly trampled to death, police said Sunday. (AP Photo/Yudha Prabowo)
Kerusuhan di Kanjuruhan, Malang. Foto: AP/Yudha Prabowo
Jakarta -

Suasana duka kembali menyelimuti pecinta sepakbola Tanah Air. Informasi terbaru, sebanyak 130 orang dilaporkan meninggal akibat kerusuhan yang terjadi di stadion Kanjuruhan, Malang. Penyebab kematian disebutkan akibat kekurangan oksigen yang terjadi akibat saling berdesakan.

Sementara itu, penggunaan gas air mata oleh pihak kepolisian juga menjadi sorotan. Polisi mengungkap penggunaan gas air mata karena sudah terjadi keanarkisan di lapangan.

"Dalam prosesnya itu untuk melakukan upaya-upaya pencegahan sampai dilakukan (penembakan) gas air mata karena sudah anarkis, sudah menyerang petugas, merusak mobil, dan akhirnya kena gas air mata," kata Kapolda Jawa Timur (Jatim) Irjen Nico Afinta saat memberikan keterangan di Mapolres Malang, dikutip dari detikJatim, Minggu (2/10/2022).

Insiden memilukan ini mengingatkan publik pada tragedi yang terjadi di stadion Nacional, kota Lima, Peru, pada 24 Mei 1964 silam. Tragedi sepakbola di Peru ini disebut sebagai insiden sepakbola terburuk di dunia karena telah menewaskan sebanyak 328 korban jiwa.

Suporter Peru turun ke lapangan akibat sebuah gol yang dianulir wasit pada menit-menit akhir pertandingan. Massa suporter yang membanjiri lapangan membuat pihak keamanan menembakan gas air mata yang justru membuat keadaan memburuk. Suporter menjadi panik dan berlarian menghindari gas air mata hingga saling berdesakan.

Dikutip dari BBC, catatan menyatakan bahwa sebagian besar korban meninggal karena sesak napas. Kerusuhan menjadi makin memanas di luar stadion akibat bentrokan antara suporter dan pihak keamanan bersenjata. Korban tewas juga dilaporkan ada yang disebabkan tembakan senjata api.

Efek penggunaan gas air mata dan kekurangan oksigen

Penggunaan gas air mata menjadi sorotan pada insiden di Kanjuruhan, Malang dan Nacional, Peru karena disebut membuat kerusuhan memburuk sehingga menyebabkan kepanikan dan kekurangan oksigen. Mengenai efek gas air mata pada saluran pernapasan, spesialis paru dari RS Paru Persahabatan dr Agus Dwi Susanto mengatakan paparan gas tersebut rentan menyebabkan iritasi pada hidung sampai saluran napas bawah.

"Gejala dari hidung berair, rasa terbakar di hidung dan tenggorokan, batuk, dahak, nyeri dada, sesak napas," kata dr Agus saat diwawancarai detikcom, Minggu (2/10/2022).

Sementara itu mengenai dampak kekurangan oksigen, dr Agus mengatakan kondisi ini bisa mengancam jiwa. Kekurangan oksigen atau asfiksia bisa menyebabkan kerusakan pada organ tubuh.

"Seseorang yang mengalami kondisi kekurangan oksigen dalam 40 sampai 60 detik akan tidak sadar dan bila berlanjut dapat menyebabkan kondisi yang berbahaya dan mengancam jiwa," pungkasnya.



Simak Video "Kemenkes Sempat Kesulitan Identifikasi Korban Tragedi Kanjuruhan"
[Gambas:Video 20detik]
(mfn/kna)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT