Ahli Paru UI Soroti Dampak Akut Gas Air Mata, Dipakai di Tragedi Kanjuruhan

ADVERTISEMENT

Ahli Paru UI Soroti Dampak Akut Gas Air Mata, Dipakai di Tragedi Kanjuruhan

Mochammad Fajar Nur - detikHealth
Minggu, 02 Okt 2022 17:00 WIB
Tragedi Kanjuruhan: Kronologi, Penyebab dan Jumlah Korban
Kerusuhan di Kanjuruhan Malang. Foto: AFP via Getty Images/STR
Jakarta -

Penggunaan gas air mata dalam menangani kerusuhan di Kanjuruhan, Malang, mengundang sejumlah sorotan. Pihak kepolisian disebut berkali-kali melepaskan gas air mata yang membuat penonton berdesakan keluar. Dinas Kesehatan Kabupaten Malang menyebutkan penyebab kematian kerusakan ini diakibatkan sesak napas.

Mengenai efek gas air mata, Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FK UI) dan spesialis paru, Prof Tjandra Yoga Aditama SpP menyatakan bahwa efek yang ditimbulkan bisa berupa gejala akut.

"Gejala akutnya di paru dan saluran napas dapat berupa dada berat, batuk, tenggorokan seperti tercekik, batuk, bising mengi, dan sesak napas. Pada keadaan tertentu dapat terjadi gawat napas (respiratory distress)," katanya dalam keterangan yang diterima detikcom, Minggu (2/10/2022).

Sementara itu, bagi seseorang yang memiliki asma dan Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK), efek yang ditimbulkan bisa lebih berat ketika terkena gas air mata.

"Masih tentang dampak di paru, mereka yang sudah punya penyakit asma atau Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK) maka kalau terkena gas air mata maka dapat terjadi serangan sesak napas akut yang bukan tidak mungkin berujung di gagal napas (respiratory failure)," tambahnya.

Selain itu, Prof Tjandra juga menyebutkan paparan gas air mata yang berkepanjangan dan pada ruangan tertutup bisa menyebabkan dampak kronik.

"Walaupun dampak utama gas air mata adalah dampak akut yang segera timbul, ternyata pada keadaan tertentu dapat terjadi dampak kronik berkepanjangan. Hal ini terutama kalau paparan berkepanjangan, dalam dosis tinggi dan apalagi kalau di ruangan tertutup," pungkasnya.

Wakil Gubernur Jatim Emil Dardak memberikan perkembangan terkini atas kerusuhan di Kanjuruhan. Menurut dia, saat ini korban tewas telah mencapai 174 jiwa.

"Data BPBD (Badan Penanggulangan Bencana Daerah) Jatim pada jam 09.30 tadi masih 158, tapi pas jam 10.30 tadi jadi 174," kata Emil kepada detikJatim, dikutip Minggu (2/10).



Simak Video "Muncul Petisi Setop Penggunaan Gas Air Mata Usai Tragedi Kanjuruhan"
[Gambas:Video 20detik]
(mfn/kna)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT