Disorot di Tragedi Kanjuruhan, Kenali Dampak Fatal Gas Air Mata ke Pernapasan

ADVERTISEMENT

Round Up

Disorot di Tragedi Kanjuruhan, Kenali Dampak Fatal Gas Air Mata ke Pernapasan

AN Uyung Pramudiarja - detikHealth
Senin, 03 Okt 2022 05:30 WIB
Suporter Sepak Bola di Bandar Lampung membakar lilin dan doa bersama atas Tragedi di Malang. Foto: Tommy Saputra/detikSumut
Foto: Suporter Sepak Bola di Bandar Lampung membakar lilin dan doa bersama atas Tragedi di Malang. Foto: Tommy Saputra/detikSumut
Jakarta -

Sedikitnya 129 orang meninggal dalam tragedi Kanjuruhan seusai laga Persebaya vs Arema FC, Sabtu (1/10/2022) malam. Selain ulah beberapa suporter yang masuk lapangan dan dianggap memprovokasi kericuhan, penggunaan gas air mata untuk mengendalikan massa juga banyak disorot.

Sejumlah pihak menyebut, gas air mata membuat ribuan penonton di tribun panik dan saling berdesakan untuk menyelamatkan diri. Akibatnya, banyak yang terhimpit lalu meninggal karena kehabisan napas.

Kepada wartawan, Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo menyebut akan melakukan audit soal SOP pengamanan yang dijalakan dalam peristiwa tersebut. Termasuk, penggunaan gas air mata.

"Semuanya akan kami dalami dan ini akan menjadi bagian dari investigasi secara tuntas baik dari penyelenggara, dari sisi pengamanan, dan pihak-pihak yang terlibat," katanya dikutip dari detikJatim.

Ahli paru yang juga guru besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) Prof Tjandra Yoga Aditama, SpP(K) menyebut gas air mata dapat memberikan dampak akut pada paru dan saluran napas, di samping juga pada mata dan kulit. Dampak tersebut bisa berupa:

  • Dada berat
  • Batuk
  • Tenggorokan seperti tercekik
  • Bising mengi
  • Sesak napas

"Pada keadaan tertentu dapat terjadi gawat napas (respiratory distress)," jelasnya.

Simak video 'Tragedi Kanjuruhan: Larangan FIFA Tak Diacuhkan, Ratusan Nyawa Hilang':

[Gambas:Video 20detik]




NEXT: Bisa fatal pada pengidap asma dan PPOK

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT