Terkait Insiden di Kanjuruhan, Ini Catatan Psikolog Agar Tragedi Tak Terulang

ADVERTISEMENT

Terkait Insiden di Kanjuruhan, Ini Catatan Psikolog Agar Tragedi Tak Terulang

Mochammad Fajar Nur - detikHealth
Senin, 03 Okt 2022 13:00 WIB
Para suporter sepakbola di Bandar Lampung menyalakan lilin disekitar spanduk bertuliskan Rest In Peace Malang dalam malam doa bersama atas meninggalnya ratusan suporter Arema FC di Stadion Kanjuruhan Malang.Foto: Tommy Saputra/detikSumut
Foto: Para suporter sepakbola di Bandar Lampung menyalakan lilin disekitar spanduk bertuliskan "Rest In Peace Malang" dalam malam doa bersama atas meninggalnya ratusan suporter Arema FC di Stadion Kanjuruhan Malang.Foto: Tommy Saputra/detikSumut
Jakarta -

Insiden kerusuhan yang memakan ratusan korban jiwa di Kanjuruhan, Malang, masih menyisakan luka mendalam. Menurut psikolog sosial Dr Juneman Abraham, menjaga mental kolektif massa tetap dalam kondisi positif sangat penting untuk mencegah insiden serupa terulang.

"Ini bukan perkara pendidikan mental individu, melainkan soal kebutuhan akan 'mental model' yang baik, fair, damai dalam suasana kolektif. Massa bisa mengimitasi atau meniru model yang baik jika ada banyak contoh," ujar Juneman kepada ANTARA, dikutip Senin (3/10/2022).

Menurutnya, ketika mental kolektif massa positif, masyarakat bisa tetap rasional menghadapi sesuatu yang tidak sesuai ekspektasi.

Juneman menjelaskan, dalam teori psikoanalisis sosial, kumpulan orang banyak atau disebut massa digambarkan memiliki karakter yang bersifat cair. Artinya, meski terdiri dari kumpulan orang yang rasional, selalu ada peluang massa itu bersikap impulsif atau berbuat sesuatu tanpa berpikir panjang, reaktif, mudah tersinggung, dan mudah meniru perbuatan pihak lain yang tergabung dalam massa itu.

Namun, potensi mendapatkan respons yang positif juga bisa didapatkan ketika gaung dan pesan positif ditonjolkan. Dalam konteks pertandingan olahraga, ia menekankan perilaku dewasa dalam menerima kekalahan dan tidak meluapkan emosi ke arah hal negatif.

"Maka kita semua perlu mengusahakan untuk mengumpulkan contoh-contoh perilaku massa yang baik (tidak hanya dalam konteks olahraga) dan saling menularkan kisah-kisah tersebut," kata Juneman.

Ia juga menekankan pentingnya komunikasi humanis dari para petugas keamanan sehingga tujuan menjaga sebuah acara berlangsung kondusif bisa terjaga.

"Respons-respons yang mengatasi kekerasan atau kerusuhan dengan jalan yang 'agak instan' perlu selalu dipinggirkan sebagai jalan utama," pungkasnya.



Simak Video "Psikolog soal Tragedi Kanjuruhan: Ada Ketidaksiapan Menerima Kekalahan"
[Gambas:Video 20detik]
(mfn/kna)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT