Dengan melandainya situasi pandemi COVID-19 di Indonesia, membuat masyarakat tidak melakukan vaksinasi booster atau dosis ketiga. Juru bicara Kementerian Kesehatan RI Mohammad Syahril mengungkap vaksinasi booster masih perlu ditingkatkan karena dapat mempengaruhi akhir pandemi.
"Jadi booster ini jangan dianggap, ah sudahlah kita sudah melandai, nggak usah lagi. Jangan, kita harus tetap (booster)," kata Syahril dalam siaran Radio Kesehatan Kemenkes RI, dilihat detikcom Rabu (5/10/2022).
Ia menambahkan, cakupan booster pertama atau dosis ketiga di Indonesia masih cukup rendah yaitu baru sekitar 23,13 persen. Angka ini masih dibawah standar yang ditetapkan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pada kesempatan yang sama, Juru bicara pemerintah untuk COVID-19 dr Reisa Broto Asmoro juga menyampaikan bahwa menurut standar WHO, cakupan vaksinasi harus dipenuhi sebagai syarat untuk keluar dari status pandemi menjadi endemi.
"Untuk vaksinasi sendiri, syaratnya sudah harus 100 persen untuk grup prioritas. Kemudian 97 persen untuk lansia. Ini yang harus kita kejar untuk lepas dari pandemi," bebernya.
Ia menegaskan, jika cakupan vaksinasi booster masih rendah dan masyarakat masih abai dengan vaksinasi, maka akan sulit Indonesia keluar dari status pandemi.
"Karenanya, ayo booster. Kalau tidak booster maka imun akan hilang. Masih ada orang yang belum vaksin Covid-19, membuat susah keluar dari pandemi," pungkasnya.
(mfn/kna)











































