No Bra Day Bukan Ajang Pamer Payudara, Ini Sejarah dan Faktanya

ADVERTISEMENT

No Bra Day Bukan Ajang Pamer Payudara, Ini Sejarah dan Faktanya

Fadilla Namira - detikHealth
Rabu, 12 Okt 2022 06:00 WIB
Concept of shopping, customer during sale, female fashion, different sizes of sexy underwear
13 Oktober diperingati sebagai hari apa? (Foto: Getty Images/iStockphoto/Oleg Elkov)
Jakarta -

No Bra Day atau Hari Tanpa Bra Sedunia merupakan ajang peringatan tahunan yang diselenggarakan setiap 13 Oktober. Melalui peringatan ini, perempuan di seluruh dunia diharapkan untuk lebih peduli dengan kesehatan payudaranya.

Hingga kini, No Bra Day masih banyak disalahartikan oleh masyarakat sebagai ajang memamerkan lekuk tubuh tanpa menggunakan sehelai pakaian. Padahal peringatan ini adalah bentuk kampanye untuk mengedukasi masyarakat tentang pencegahan kanker payudara.

Kanker merupakan salah satu masalah kesehatan terbesar di Indonesia dan menjadi penyebab kematian tertinggi kedua setelah penyakit kardiovaskuler. Melalui data Globocan 2020, kasus kanker payudara di Indonesia menempati peringkat satu terbanyak sejumlah 65.858 dengan angka kematiannya sebesar 22.430 jiwa.

Sejarah No Bra Day

Asal-usul No Bra Day sendiri sebenarnya dimulai dari ide seorang perempuan yang diberi nama samaran Anastasia Donuts saat mengikuti Hari BRA Sedunia (Breast Reconstruction - An Event of Learning and Sharing). Ia membuat sebuah tagar tentang No Bra Day di situs webnya yang kemudian diikuti oleh banyak orang.

Di sisi lain, Hari BRA Sedunia sudah lebih dulu ada sejak 19 Oktober 2011 dan digagas oleh Dr Mitchell Brown di Toronto, Kanada dengan tujuan yang hampir serupa, yakni meningkatkan kepedulian terhadap wanita yang menjalani operasi pengangkatan payudara (mastektomi) dan memberikan pemahaman tentang bahaya kanker payudara.

Lalu tiga tahun berikutnya, kedua hari tersebut pun digabung dan diputuskan perayaannya secara internasional pada 13 Oktober sekaligus memperingati Bulan Peduli Kanker Payudara Nasional.

Fakta-fakta No Bra Day

1. Gerakan Kesehatan Payudara

Berdasarkan tujuannya, No Bra Day tetap jadi kepentingan utama bagi beberapa kalangan, seperti ahli medis dan lembaga kesehatan, untuk menyebarkan edukasi dan pemahaman tentang kanker payudara. Hasilnya pun mendapat respons positif oleh masyarakat di seluruh dunia.

2. Timbul Kontroversi

Seperti yang sudah ditulis sebelumnya, No Bra day membuka kesempatan bagi wanita untuk memperlihatkan kepolosan tubuh secara bebas di media sosial, terutama bagi penduduk negara liberal. Maka dari itu, momentum ini kerap menuai kontroversi karena menimbulkan konten pornografi dan akhirnya tidak selaras dengan tujuan utamanya.

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT