Antibiotik Bukan 'Obat Dewa', Keseringan Minum Malah Berbahaya Bagi Tubuh

ADVERTISEMENT

Antibiotik Bukan 'Obat Dewa', Keseringan Minum Malah Berbahaya Bagi Tubuh

Khadijah Nur Azizah - detikHealth
Kamis, 13 Okt 2022 13:02 WIB
Antibiotik
Foto: Getty Images/iStockphoto/Ridofranz
Jakarta -

Pandemi resistensi antibiotik menghantui warga India. Banyak warga yang tak mempan diberi antibiotik untuk mengobat infeksi superbug yang melanda negara itu.

Resistensi antibiotik sudah menjadi kekhawatiran para ahli sejak bertahun-tahun lalu. Saat ini, 1,27 juta orang meninggal setiap tahun karena infeksi yang resisten terhadap obat.

Potensi antibiotik untuk mengobati atau mencegah penyakit telah menyebabkan peningkatan penggunaannya sampai pada titik di mana obat tersebut disalahgunakan, diperoleh tanpa resep dokter, dan sering disalahgunakan pada manusia, hewan, tumbuhan, dan lingkungan. Akibatnya, muncul masalah resistensi antibiotik akibat mikroba yang berevolusi.

Masalahnya, tidak sedikit orang yang menganggap antibiotik adalah 'obat dewa'. Semua penyakit dianggap bisa sembuh jika diberi antibiotik.

"Makin sering kamu makan antibiotik justru kamu akan sering sakit, karena antibiotik membunuh kuman baik yang ada di badan kamu. Kamu nggak punya kuman baik lagi di perut di kulit. Yang tadinya kavling di tempati kuman baik, justru ditempati kuman jahat. Kebanyakan penyakit tidak butuh antibiotik," kata spesialis anak dr Purnamawati, SpA(K), MMPAed saat ditemui detikcom beberapa waktu lalu.

Tidak semua penyakit memerlukan antibiotik untuk sembuh. Penyakit yang memerlukan antibiotik adalah penyakit yang disebabkan oleh bakteri, sementara penyakit yang disebabkan oleh virus seperti batuk dan pilek tidak memerlukan antibiotik.



Simak Video "Wamenkes soal 'Biang Kerok' Pandemi Tersembunyi"
[Gambas:Video 20detik]
(kna/naf)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT