Gagal Ginjal Misterius Serang Anak-anak, Waspada Jika Kencing Seperti Ini

ADVERTISEMENT

Gagal Ginjal Misterius Serang Anak-anak, Waspada Jika Kencing Seperti Ini

Vidya Pinandhita - detikHealth
Minggu, 16 Okt 2022 18:31 WIB
Ilustrasi anak dirawat di rumah sakit
Foto: Getty Images/iStockphoto/gorodenkoff
Jakarta -

Hingga kini, Indonesia sudah mencatat total 152 kasus gangguan ginjal akut misterius pada anak. Diketahui, gejala paling khas pada pasien-pasien tersebut berupa gangguan buang air kecil. Lantas, kondisi apa yang perlu diwaspadai orangtua jika sampai dialami anaknya?

Plt. Direktur Pelayanan Kesehatan Rujukan Kemenkes dr Yanti Herman menjelaskan, anak-anak dengan gangguan ginjal akut misterius mengalami pengurangan jumlah air kencing, bahkan pada beberapa kasus berhenti sama sekali.

Perihal gejala demam, tidak semua pasien mengalami sehingga tidak dikatakan sebagai gejala khas.

"Yang paling khas adalah penurunan jumlah air kencingnya atau buang air kecilnya yang kita kenal dengan oliguria atau sama sekali tidak ada urinenya atau yang kita kenal dengan anuria," ungkapnya dalam konferensi pers virtual, Jumat (14/10/2022).

"(Pasien gagal ginjal misterius) tidak mengalami gagal ginjal sebelumnya atau pasien tersebut memang pasien ginjal kronis. Dengan atau tanpa demam ataupun ada demam atau gejala infeksi lain pada 14 hari terakhir. Jadi demam ini memang bukan gejala yang khas, bisa disertai atau tanpa disertai demam atau gejala infeksi yang lain," imbuh dr Yanti.

Perubahan Frekuensi dan Volume Urine

Lebih lanjut dr Yanti menganjurkan para orangtua untuk memperhatikan warna dan jumlah urine anak di rumah. Jika terjadi pengurangan volume dan frekuensi, bahkan berhenti sama sekali, orangtua diminta untuk segera memeriksakan anak ke rumah sakit.

"Yang paling penting adalah memantau warna dan jumlah urin di rumah. Jika urin berkurang yaitu urine dikatakan berkurang jika jumlahnya kurang dari 0,5 ml per kg berat badan per jam dalam 6-12 jam atau bahkan tidak ada urine sama sekali anuria selama 6-8 jam saat siang hari maka pasien segera dirujuk di rumah sakit. Jadi jangan dilakukan perawatan di fasilitas kesehatan tingkat pertama," pungkas dr Yanti.



Simak Video "Tingkat Kematian Gangguan Ginjal Akut Capai 48 Persen, Mengapa?"
[Gambas:Video 20detik]
(vyp/kna)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT