Amnesia: Gejala, Penyebab, dan Pengobatan

ADVERTISEMENT

Amnesia: Gejala, Penyebab, dan Pengobatan

dr Barry Anggara, SpPD - detikHealth
Kamis, 10 Nov 2022 14:16 WIB
Ilustrasi seseorang yang menderita gejala stres.
Ilustrasi seseorang terkena amnesia. (Foto: Shutterstock)
Jakarta -

Amnesia atau sindrom amnestik adalah kondisi kesehatan yang membuat pengidapnya hilang ingatan tentang peristiwa dan fakta penting yang pernah dialami. Bahkan, tak mengenali orang-orang terdekat dan lupa dengan keluarganya sendiri.

Penyakit ini kerap kali digambarkan dalam film dan sinetron TV di Indonesia. Dalam skenario, tokohnya sering tidak mengingat seluruh peristiwa yang mereka alami, bahkan tidak bisa mengingat nama mereka. Untungnya, temuan di dunia medis kasus amnesia tidak separah itu.

Sebelum tahu lebih detail tentang amnesia, ketahui dulu cara kerja otak menyimpan memori. Memori pada manusia tertuju pada kemampuan untuk mempertahankan dan mengingat informasi dari masa lalu melalui tiga tahap, yaitu menyandi (encoding), penyimpanan (storage), dan pengambilan (retrieval).

  • Menyandi (encoding): Kondisi saat otak menerima informasi dan merangkainya untuk menggambarkan secara utuh makna dari informasi tersebut.
  • Penyimpanan (storage): Setelah dirangkai, otak akan menyimpannya jika suatu saat akan dipakai kembali.
  • Pengambilan (retrieval): Otak akan mengaktifkan kembali ingatannya ketika seseorang membutuhkan informasi yang pernah ia alami.

Amnesia disebabkan oleh kerusakan pada area otak yang penting untuk pemrosesan memori, yaitu hipokampus. Amnesia memiliki banyak jenis sesuai dampak yang ditimbulkan:

1. Anterograde Amnesia

Anterograde amnesia terjadi ketika seseorang tidak dapat mengingat informasi baru setelah trauma otak yang biasanya disebabkan oleh benturan keras di kepala. Hal ini lebih umum terjadi pada pengidap amnesia.

2. Retrograde Amnesia

Berbanding terbalik dengan anterograde amnesia, retrograde amnesia adalah kondisi di mana seseorang tidak dapat mengingat peristiwa yang terjadi sebelum trauma otak, tetapi mereka mengingat apa yang terjadi setelahnya.

3. Transient Global Amnesia

Sindrom amnestik yang bersifat sementara dan hanya berlangsung hingga 24 jam.

4. Post-traumatic Amnesia

Post-traumatic amnesia merupakan hilang ingatan pasca trauma karena pengidapnya mengalami kecelakaan hebat yang mengganggu fungsi saraf otak. Gangguan ingatan ini bisa menggabungkan dua jenis amnesia lainnya, yaitu antara anterograde dan retrograde.

5. Infantile Amnesia

Infantile amnesia adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan seseorang yang tidak dapat mengingat peristiwa di masa kanak-kanak. Pengidapnya lupa akan kenangan ia pada umur 3-5 tahun karena saat itu otaknya belum berkembang dengan sempurna.

6. Dissociative Amnesia atau Psychogenic Amnesia

Amnesia disosiatif (dissociative amnesia) sebenarnya tergolong gangguan kesehatan mental saat pengidapnya mengalami hilang ingatan setelah trauma psikologis. Hal ini akan menghapus informasi tertentu akibat trauma yang pernah dialami.

Gejala Amnesia

Amnesia jarang terjadi secara mendadak tanpa suatu sebab. Berikut ini adalah gejala umum dari amnesia:

  • Gangguan kemampuan untuk mempelajari informasi baru (anterograde amnesia).
  • Gangguan kemampuan untuk mengingat peristiwa masa (amnesia retrograde).
  • Mengalami ingatan palsu (confabulation).
  • Gangguan memori jangka pendek.
  • Kehilangan sebagian atau total dari semua memori.
  • Kebingungan.

Penyebab Amnesia

Berdasarkan penyebabnya, amnesia dibagi menjadi dua, yakni neurologis dan fungsional. Namun, penyebab paling umum terjadi pada seseorang adalah amnesia neurologis. Berikut ini adalah faktor penyebab masing-masing kedua jenis amnesia tersebut.

1. Amnesia Neurologis

Amnesia jenis ini dapat disebabkan oleh:

  • Cedera otak akibat kecelakaan mobil dan jatuh dari tangga.
  • Alzheimer dan demensia.
  • Pukulan keras di kepala.
  • Tumor dan infeksi otak.
  • Penyakit lyme.
  • Sipilis.
  • HIV-AIDS.
  • Anoksia (kekurangan oksigen).
  • Masalah tiroid.
  • Kekurangan vitamin B1 (tiamin) atau B12 (sianokobalamin).
  • Pecandu berat alkohol.

2. Amnesia Fungsional

Amnesia fungsional dikategorikan sebagai gangguan kejiwaan. Jenis ini lebih jarang terjadi daripada amnesia neurologis. Ia tidak memiliki keterkaitan dengan penyakit otak, tetapi lebih ke arah trauma emosional. Jenis ini biasanya akan menyebabkan amnesia retrograde (ketidakmampuan untuk mengingat informasi masa lalu), bahkan ada kemungkinan pengidapnya lupa identitas mereka sendiri.

Adapun faktor risiko yang dapat menimbulkan penyakit ini adalah orang dengan riwayat serangan migran, pengidap hipertensi, pascaoperasi, pukulan benda keras di kepala, dan orang dengan stres emosional.

Diagnosis Amnesia

Untuk menentukan seseorang terkena amnesia atau tidak, dokter akan menginstruksikan untuk pemeriksaan darah guna mengecek kadar vitamin B1, kadar B12, dan hormon tiroid. Selain itu, dokter juga menyarankan pengidapnya untuk MRI atau CT scan untuk mencari tanda-tanda kerusakan otak, seperti tumor otak atau stroke.

Pengobatan Amnesia

Dalam beberapa kasus, amnesia dapat sembuh tanpa pengobatan medis. Namun jika berlangsung dalam waktu lama dan disertai dengan gangguan fisik atau mental, ahli medis akan menyarankan pengidapnya untuk berkonsultasi dengan psikoterapi untuk terapi perilaku kognitif atau Cognitive Behavioral Therapy (CBT).

Untuk saat ini, belum ada obat medis yang tersedia untuk memulihkan ingatan yang hilang karena amnesia. Namun, mereka bisa diberikan perawatan dengan rutin meminum vitamin B1 atau mengonsumsi biji-bijian utuh dan kacang-kacangan.

Komplikasi Amnesia

Orang dengan amnesia bisa berdampak pada penurunan kualitas hidup mereka, tergantung dari tingkat keparahannya. Sebab, kehilangan informasi penting yang pernah dialami akan mengganggu aktivitas sehari-hari atau pekerjaan mereka. Maka dari itu, orang dengan amnesia harus didampingi dan diawasi secara ekstra oleh ahli medis dan keluarga.

Kapan Harus ke Dokter?

Pengidapnya dapat berkonsultasi langsung dengan dokter bila mengalami hilang ingatan mendadak dan tanpa sebab untuk menentukan penyebab pastinya. Semakin cepat pengobatan yang dijalani, semakin besar pula kemungkinannya untuk sembuh.

Ditinjau oleh:

dr Barry Anggara, SpPD

Ketua Komite Farmasi dan Terapi

Primaya Hospital Bekasi Timur

dr Barry Anggara, SpPDdr Barry Anggara, SpPD Foto: Primaya Hospital Bekasi Timur


Simak Video "Bagaimana Cara Mencegah Digital Amnesia?"
[Gambas:Video 20detik]
(Fadilla Namira/suc)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT