Anak Kebanyakan Main Gadget Bikin Mata Juling? Faktanya Sih Begini

ADVERTISEMENT

Anak Kebanyakan Main Gadget Bikin Mata Juling? Faktanya Sih Begini

Fadilla Namira - detikHealth
Sabtu, 12 Nov 2022 21:30 WIB
Anak-anak SD di Jakarta melakukan pemeriksaan mata gratis.
Ilustrasi pemeriksaan mata (Foto: Annissa Widya Davita/detikHealth)
Jakarta -

Pengetahuan dan informasi yang kurang menyebabkan banyak miskonsepsi di tengah masyarakat tentang mata juling. Kebanyakan dari penduduk Indonesia, terutama ibu-ibu, menganggap anak yang kebanyakan main smartphone bisa memicu mata juling. Lantas, bagaimana faktanya?

Menurut dokter spesialis mata konsultan dari Jakarta Eye Center (JEC), dr Gusti G Suardana, SpM(K), pernyataan ini tidak sepenuhnya salah dan benar. Ada kondisi saat seseorang punya risiko tinggi mengalami mata juling ketika ia berhadapan dengan layar smartphone atau laptop.

"Kalau dia tidak punya bakat mata juling harusnya tidak berpengaruh, kecuali dia mengidap juling akomodatif," kata dr Gusti ketika ditemui di Jakarta Barat , Sabtu (12/11/2022).

Juling akomodatif adalah gangguan matanya plus (rabun dekat) dan arah matanya lebih masuk. Jenis juling ini biasanya mendapatkan kacamata khusus oleh dokter sebagai perawatan berkala.

"Kalau dia banyak menggunakan (smartphone), kemungkinan akomodasinya lebih kuat atau lebih parah bisa terjadi. Tapi kalau nggak masuk kelompok itu, tidak memberikan pengaruh," lanjutnya.

Di sisi lain, masyarakat punya pemikiran bahwa penglihatan bayi yang terus-menurus ke atas atau arah lampu mengakibatkan mata juling seiring umurnya bertambah. Pernyataan ini pun secara tegas dibantah oleh dr Gusti.

"Kalau di masyarakat sering beredar meletakkan lampu di sisi tertentu bisa menyebabkan mata anak juling. Nah, itu hoax dan jangan dipercaya, ya," imbuhnya.

Anak mengalami mata juling bisa disebabkan oleh berbagai hal, namun umumnya karena penyakit hidrosefalus. Hidrosefalus adalah pembesaran kepala karena penumpukan cairan di rongga otak.

"Seringnya pada anak-anak bisa disebabkan oleh hidrosefalus (kepala besar) dan kejang-kejang," sebut dr Gusti.

Dengan demikian, orang tua perlu memberikan perhatian lebih pada kondisi kesehatan anak. Meski tidak punya faktor risiko mata juling, dokter tidak menganjurkan orang tua memanjakan anak dengan membiasakan aktivitas penglihatan jarak dekat. Sebagai pendeteksian dini, skirininglah mata anak secara rutin, terutama bagi bayi di bawah enam bulan.



Simak Video "Tips Menjaga Kesehatan Mata Agar Tak Cepat Lelah"
[Gambas:Video 20detik]
(suc/suc)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT