Geger Keluarga Tewas di Kalideres, Kondisi Kelaparan Seperti Ini Picu Kematian

ADVERTISEMENT

Geger Keluarga Tewas di Kalideres, Kondisi Kelaparan Seperti Ini Picu Kematian

Vidya Pinandhita - detikHealth
Rabu, 16 Nov 2022 10:20 WIB
Puslabfor Polri cek suhu dan kelembaban udara di rumah sekeluarga mengering di Kalideres, Jakarta Barat.
Foto: Puslabfor Polri cek suhu dan kelembaban udara di rumah sekeluarga 'mengering' di Kalideres, Jakarta Barat. (Rumondang Naibaho/detikcom)
Jakarta -

Kasus sekeluarga tewas di Kalideres masih menjadi misteri. Empat anggota keluarga ditemukan tewas dalam kondisi tubuh 'mengering' dan terkunci di dalam rumah. Polisi menduga, kematian tersebut dipicu oleh tidak makan dan minum dalam waktu lama.

Sempat muncul dugaan dari Kriminolog UI Adrianus Meliala bahwa keluarga tersebut menganut sekte apokaliptik. Pasalnya, menyetop asupan makanan dan minum selama beberapa waktu merupakan salah satu ritual sekte tersebut.

Menanggapi itu, Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Endra Zulpan menyebut pihaknya masih dalam tahap pencarian penyebab kematian sekeluarga tersebut.

"Kita sudah dapat beberapa bukti di TKP, petunjuk dan sebagainya. Tetapi memang belum bisa kami sampaikan secara detil karena masih memerlukan waktu. Tapi memang bisa dikatakan ini tidak mengarah kepada kelaparan," ungkap Zulpan dikutip dari detikNews, Rabu (16/11/2022).

Dokter forensik dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FK UI) Ade Firmansyah, menjelaskan, masih ada kemungkinan manusia bisa bertahan hidup jika tetap minum meskipun tidak makan. Namun, kondisi fatal dan risiko kematian akan timbul jika massa tubuh berkurang hingga 40 persen dan kebutuhan energi tidak kunjung terpenuhi.

Pada kondisi massa tubuh berkurang, bisa timbul gejala kelemahan tubuh berupa pingsan dan hilang kesadaran.

"Biasanya kehilangan massa tubuh sebesar 40 persen dari massa tubuh awalnya akan bersifat fatal dan mengakibatkan kematian," terangnya pada detikcom, Selasa (15/11).

Dalam kesempatan lainnya, spesialis penyakit dalam sekaligus pakar dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) Prof Ari Fahrial Syam menjelaskan kelaparan dalam waktu lama bisa memicu kerusakan serius pada organ dan mental.

"Ketika terjadi defisit asupan energi, tubuh mengonsumsi cadangannya sendiri untuk menjaga glukosa darah, bahan bakar utamanya. Tubuh pertama-tama akan menggunakan cadangan lemak," jelas Prof Ari pada detikcom.

"Kemudian, tubuh akan mulai menggunakan otot dan jaringan organ untuk menghasilkan energi. Kekurangan garam dan vitamin juga berbahaya bagi tubuh," sambungnya.

Khususnya pada orang dengan penyakit komorbid, kematian akan terjadi dalam hitungan waktu tidak sampai seminggu jika tubuh tidak diberi asupan makan dan minum.

"Pasien dengan modalitas yang terbatas (banyak komorbid) untuk tidak makan dan tidak minum dalam waktu lama akan berhadapan dengan situasi mungkin mengancam jiwa dalam waktu kurang dari seminggu. Puasa mutlak (bukan hanya tanpa makanan tetapi juga tanpa asupan cairan) tidak sesuai dengan kehidupan selama lebih dari beberapa hari," beber Prof Ari.

Prof Ari menambahkan, semakin lama seseorang tidak makan dan minum, semakin besar risiko tubuh mengalami komplikasi serius. Komplikasi bisa berlangsung permanen berupa:

Gangguan neurologis atau saraf: kelumpuhan ekstremitas, kebutaan, koma

Kematian karena masalah neurologis, jantung, paru atau ginjal dan berbagai komplikasi lain.



Simak Video "Cara Nagita Slavina Mengatasi Rafathar yang Mulai Pilih-pilih Makanan"
[Gambas:Video 20detik]
(vyp/naf)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT