Dipercaya Bisa Pulih dengan Melukat, Sebahaya Apa Trauma yang Tidak Dibereskan?

ADVERTISEMENT

Dipercaya Bisa Pulih dengan Melukat, Sebahaya Apa Trauma yang Tidak Dibereskan?

Vidya Pinandhita - detikHealth
Sabtu, 19 Nov 2022 06:25 WIB
Melukat di Tri Desna, Ubud, Bali.
Prosesi melukat di Bali dipercaya bisa membantu pemulihan trauma. Foto: Vidya Pinandhita/detikHealth
Jakarta -

Prosesi melukat ala Bali diyakini bisa memulihkan luka batin atau trauma akibat pengalaman di masa lalu. Pasalnya, trauma yang tersimpan lama dan tak kunjung dipulihkan bisa berimbas pada kehidupan sehari-hari baik pada emosi, fisik, bahkan hubungan sosial.

Dewi Ayu Sri Agung, atau yang biasa disapa sebagai ibu 'Desak Akeno' adalah seorang 'sang pembantu penyembuhan' yang memberikan prosedur melukat di Trei Desna, Ubud, Bali. Ia menjelaskan, melukat dilakukan dengan cara membasuh menggunakan air yang telah didoakan dan diberi bunga-bungaan. Diyakininya, proses ini bisa membantu membersihkan pikiran dan jiwa.

Namun catatannya, kunci utama untuk menunaikan proses melukat adalah kemauan untuk memaafkan diri dan menerima masa lalu. Setelah melukat, ibarat gelas yang sudah dikosongkan, tubuh dan jiwa seseorang bisa diisi lagi dengan hal-hal baru yang positif.

"Setelah pemahamanan itu baru diajak melukat. Karena melukat ini juga untuk melepaskan masa lalunya. Maukah kalian memaafkan orang-orang, digali dulu permasalahannya, di mana dia tidak terima tentang kehidupan, sadarkan itu. Setelah dia ikhlas, lepaskan, baru dibersihkan melalui melukat agar setelah menapak ke depannya itu dia bagaikan gelas kosong," jelas Desak saat ditemui detikcom di Ubud, Bali, beberapa waktu lalu.

"Seperti air itu masuk ke dalam diri. Setelah air itu masuk, bukan air itu hanya di luar badan saja. Bisakah kita merasakan air itu masuk ke dalam tubuh dari atas sampai bawah hingga akhirnya melepaskan. Mencuci hal-hal di dalam tubuh. Kalau mampu, itu kita lakukan," imbuhnya.

Praktisi melukat di Bali, Dewi Ayu Sri Agung, atau yang biasa disapa sebagai ibu 'Desak Akeno'.Praktisi melukat di Bali, Dewi Ayu Sri Agung, atau yang biasa disapa sebagai ibu 'Desak Akeno'. Foto: Vidya Pinandhita/detikHealth

Dalam kesempatan terpisah, psikolog klinis dan founder pusat konsultasi Anastasia and Associate, Anastasia Sari Dewi, menjelaskan trauma adalah respons emosi seseorang atas pengalaman yang pernah dialami. Pengalaman tersebut bisa datang dari luar diri, seperti kecelakaan atau kekerasan. Jika timbul trauma, emosi dan rasa takut akan timbul setiap orang tersebut teringat akan pengalaman masa lalu yang menimpanya.

Dengan begitu, luka trauma amat penting untuk disembuhkan. Bisa dengan pendekatan psikologi menggunakan psikoterapi, atau pendekatan rohani seperti ajaran dan nilai-nilai agamis.

"Intinya adalah mengubah mindset. Pendekatan rohani pun sebenarnya merupakan salah satu pendekatan psikologi positif juga, menggunakan agama. Untuk beberapa orang lebih nyaman dengan pendekatan itu, silakan. Kalau dalam psikologi juga psikoterapi ada urutannya. Ada tahapannya supaya tidak timbul trauma yang baru," terang Sari pada detikcom beberapa waktu lalu.

"Kalau di agama, yang saya tahu berfokus di penenangan, penerimaan, ikhlas. Kalau dalam psikologi (psikoterapi) bisa juga nanti dibedah pengalamannya dia, diuraikan, dibahas pelan-pelan, dilatih kembali supaya dia tidak takut lagi dengan traumanya. Tidak membawa traumanya terus-menerus," imbuhnya.

Hal senada disampaikan oleh psikolog klinis dari Ikatan Psikolog Klinis (IPK) Indonesia Annelia Sari Sani. Ia menjelaskan, luka trauma yang tidak dipulihkan ibarat luka pada kulit. Orang yang tidak memiliki luka akan baik-baik saja ketika tersenggol. Namun orang dengan luka, akan merasa sakit walaupun hanya tersenggol pelan.

Sama halnya dengan trauma yang tidak dibereskan. Orang dengan luka trauma berisiko menjadi lebih rentan menghadapi lingkungan sosialnya.

"Trauma itu sifatnya disabling, menyebabkan kita yang tadinya able (mampu) menjadi tidak berdaya. Makanya trauma itu harus amat sangat disadari, awareness tentang trauma itu harus sangat ditanamkan, sehingga kita bisa mengurangi pain and suffering-nya, mencari cara untuk tetap kembali bisa resilient, membal balik menjadi tangguh. Karena betapa sebenarnya dampak trauma, masalah kesehatan mental ini kemana-mana," jelas Anne pada detikcom.

"Bentuk psikoterapi bisa sangat berbeda, tergantung setiap orang. Tergantung kondisinya, traumanya seperti apa, bagaimana dinamikanya. Itu semua sangat berbeda. Psikoterapi sangat membantu, tapi juga tidak mengesampingkan ritual adat istiadat. Bahkan, bisa berjalan berbarengan, termasuk juga ritual keagamaan," imbuhnya.



Simak Video "3 Tips Menjaga Kesehatan Mental Menurut WHO"
[Gambas:Video 20detik]

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT