'Darah Biru' hingga Bullying, Sisi Kelam Praktik Kedokteran di Indonesia

ADVERTISEMENT

'Darah Biru' hingga Bullying, Sisi Kelam Praktik Kedokteran di Indonesia

Nafilah Sri Sagita K - detikHealth
Selasa, 29 Nov 2022 07:02 WIB
Medical team nurse feeling tired and sad from working to cure patients during covid 19 pandemic. Young woman take a break sitting close her eyes and rest after hard work at emergency case in hospital.
Sisi kelam praktik kedokteran di Indonesia, bullying dan 'perpeloncoan'. (Foto ilustrasi: Getty Images/iStockphoto/Kiwis)
Jakarta -

Sudah jadi rahasia umum, 'perploncoan' dan kasus bullying juga terjadi di pendidikan kedokteran. Terkecuali bagi mereka yang punya relasi dengan profesor. Ibarat punya kartu sakti, jalan menempuh pendidikan di fakultas kedokteran jauh lebih mulus.

"Kalau dia ada hubungan keluarga, ponakan, sudah itu mah sakti. Nggak akan kena apapun, malah dia diistimewakan," cerita (MK) kepada detikcom beberapa waktu lalu, pria yang kala itu baru selesai menjalani masa klinik dan pre klinik di FKG salah satu universitas di Indonesia.

MK menyebut perlakuan spesial mahasiswa pemilik kartu sakti, berpengaruh pada penilaian. "Contoh nih ya gigi kamu patah, terus aku tambal nih, tambal, udah paling bagus lah paling rapi. Tapi, kalau dosennya lagi pusing, lagi stres, lagi uring-uringan, tambalan sebagus apapun itu nggak di-acc," tutur dia.

"Beda cerita kalau (misalnya) aku keponakan dosen anu, profesor anu, dosen yang tadi dosen udah pulang, terus misalnya di-WA mau acc, yasudah fotokan saja (dipermudah)," lanjut MK.

Keluhan seperti ini yang juga sampai ke Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin di tengah riuhnya pro kontra RUU Kesehatan Omnibus Law. Dalam diskusi bersama para dokter, Menkes terang-terangan bercerita soal monopoli.

"The better, the higher, the smarter you parents, kamu punya peluang lebih tinggi menjadi seorang spesialis," katanya dalam Forum Diskusi Ikatan Dokter Indonesia, disiarkan @IDI Wil Riau, Minggu (27/11/2022).

Inilah yang disebutnya menghambat jumlah produksi dokter spesialis di Indonesia. Seleksi tak transparan hingga perlunya rekomendasi bagi mahasiswa 'bukan darah biru'.

Melalui reformasi UU Kesehatan, hal semacam ini yang ingin diluruskan Menkes. Akselerasi kemudian didorong tidak hanya melalui universitas, tetapi juga hospital base untuk memangkas teknis izin sehingga bisa segera berpraktik.

"Kita kan denger juga dokter-dokter banyak banget komplain ke aku, minta rekomendasi, termasuk dokter spesialis, aku tanya emang kenapa sih harus rekomendasi? Kenapa nggak tes saja?," tanya Menkes.

"Terus dijawab 'Pak ini kalau tes ada namanya darah biru pak, kalau misalnya ada anak profesor masuk aku pasti kalah', oh gitu, banyak itu, yasudahlah kalau gitu kita lebih banyak buka di RS," terang dia.

Reformasi ini dibutuhkan, kata Menkes, demi menyelamatkan puluhan ribu nyawa tak tertolong setiap tahun akibat minimnya dokter spesialis. Kasus bayi lahir dengan kelainan jantung misalnya, dilaporkan sebanyak 50 ribu per tahun dan 40 persen di antaranya harus dilakukan operasi yakni sekitar 20 ribu.

"Sementara kapasitas kita 6.000. Loh terus sisanya gimana? Ini jawaban seorang profesor jantung, 'itu seleksi alam Pak,'" kata Menkes.

"Intinya, perbanyak dokter spesialis, nyatanya dampak ke layanan kesehatan, rakyat meninggal ga terlayani 20 ribu bayi, masa kita tega," kata dia.

NEXT: Apa Kata IDI?



Simak Video "Sederet Pernyataan Kontroversial Wagub Jabar Uu Ruzhanul Ulum"
[Gambas:Video 20detik]

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT