Melihat Akses Kontrasepsi Darurat untuk Korban Kekerasan Seksual di Indonesia

ADVERTISEMENT

Melihat Akses Kontrasepsi Darurat untuk Korban Kekerasan Seksual di Indonesia

Khadijah Nur Azizah - detikHealth
Selasa, 29 Nov 2022 11:45 WIB
Despair. The concept of stopping violence against women and human trafficking,  International Womens Day
Foto: Getty Images/iStockphoto/Tinnakorn Jorruang
Jakarta -

Kontrasepsi darurat atau morning after pill adalah metode pencegahan kehamilan yang digunakan sesaat dalam situasi khusus yang tidak terduga atau darurat. Kontrasepsi darurat adalah salah satu upaya mencegah kehamilan yang bisa dikonsumsi maksimal 72 jam setelah terjadinya penetrasi.

Hanya saja, sejauh ini Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) hanya menyediakan kontrasepsi untuk pasangan yang sudah menikah. BKKBN tak menganjurkan kontrasepsi bagi individu yang aktif secara seksual namun belum menikah.

Padahal terlepas dari status pernikahannya, akses kontrasepsi darurat harus terjamin sebebas-bebasnya, terlebih untuk perempuan yang menjadi korban kekerasan seksual karena sejumlah data sudah menunjukkan tentang banyaknya kasus kekerasan seksual di luar kehamilan.

"Kalau bagi korban perkosaan sangat penting ya karena kan secara psikologis dia sudah tertekan dengan hal yang dialami, bagaimana kalau dia diberi tanggung jawab besar hamil dari orang yang dia tidak kehendaki. Pasti secara psikologis, kontrasepsi darurat ini sangat membantu korban," kata spesialis obgyn dari RSIA Brawijaya Saharjo, dr Dinda Derdameisya SpOG saat diwawancarai detikcom.

Namun dr Dinda tak menampik bahwa sejauh ini akses pil kontrasepsi darurat di Indonesia baru bisa didapatkan jika ada resep dokter, di luar itu, sulit untuk didapatkan. Padahal jika melakukan pencarian di internet, kata kunci 'apakah morning after pill dijual bebas' saat ini sudah menjadi pencarian teratas di Google. Artinya ini mengindikasikan bahwa banyak orang yang melakukan pencarian informasi tentang obat ini.

Sejauh ini memang masih sedikit negara yang memberikan akses kontrasepsi darurat untuk dijual bebas di apotek. Kontrasepsi darurat adalah obat resep yang paling umum ditolak. Penolakan ini disebabkan umumnya karena menurut keyakinan agama atau moral yang menyebutkan bahwa obat ini tak boleh diakses karena ketakutan akan terjadinya kehamilan di luar pernikahan.

Ina (bukan nama sebenarnya) tak pernah menyangka ia akan membutuhkan pil kontrasepsi darurat sebagai langkah untuk menyelamatkan masa depannya. Aksesnya yang kian sulit membuat Ina hampir frustasi karena tak ada layanan kontrasepsi darurat yang ia temukan.

Meski hati dipenuhi kepanikan, ia yang saat itu masih berusia 18 tahun harus memutar otak agar bisa mendapat pil pencegah kehamilan itu di fasilitas kesehatan. Dengan bantuan informasi dari internet, ia menemukan satu apotek yang menjual pil kontrasepsi darurat.

"Itu aja jauh, terpencil. Pas disana aku diminta masukin nomor telepon, agak takut sebenarnya makanya aku nggak kasi nomor hp aku,"

Saat membeli pil tersebut, penyedia layanan tidak memberi tahu bagaimana cara mengkonsumsinya yang membuat hal ini menjadi amat berisiko. Jika terjadi kesalahan, ia bisa mengalami pendarahan hebat yang mengancam keselamatannya.

"Akhirnya ya baca di internet. Untung aja masih dikasih selamat sampai sekarang," ungkap Ina.

Tidak semua korban pelecehan seksual berani untuk melaporkan kejadian yang dialaminya ke kepolisian. Rasa trauma dan ketakutan besar mengalahkan keberanian mereka untuk menjelaskan kembali kondisi yang dialami.

Berdasarkan data pada tahun 2019 yang dihimpun International Consortium for Emergency Contraception, baru 19 negara yang mengizinkan akses pembelian kontrasepsi darurat di apotek.

Beberapa negara tetangga sudah menyediakan informasi lengkap tentang cara mengakses kontrasepsi darurat bagi korban kekerasan seksual. Singapura, misalnya, telah menyediakan layanan komprehensif untuk penanganan bagi korban kekerasan seksual dalam daftar rumah sakit yang ditunjuk dan bantuan-bantuan lainnya terkait hal tersebut.

Dalam laman Sexual Assault Care Center, otoritas Singapura sudah memberikan prosedur lengkap mengenai alur dan tata cara yang harus segera dilakukan dalam 72 jam usai kekerasan seksual terjadi.

Care Center tersebut juga menyediakan layanan yang aman, gratis, dan rahasia bagi siapa saja yang pernah menghadapi kekerasan seksual dan/atau pelecehan seksual, bahkan jika itu terjadi bertahun-tahun yang lalu," tulis layanan tersebut.



Simak Video "Badan Pengawas Obat dan Makanan AS Izinkan Pil Aborsi Dijual"
[Gambas:Video 20detik]

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT