Gejala pada Tubuh Pasien Kebal Antibiotik, Inikah Pandemi Tersembunyi?

ADVERTISEMENT

Gejala pada Tubuh Pasien Kebal Antibiotik, Inikah Pandemi Tersembunyi?

Sarah Oktaviani Alam - detikHealth
Rabu, 30 Nov 2022 10:12 WIB
3D illustration. Genetic test in test tube.
Ilustrasi pandemi tersembunyi. (Foto: Getty Images/iStockphoto/ktsimage)
Jakarta -

Resistensi antibiotik disebut-sebut menjadi silent pandemic atau pandemi tersembunyi yang lebih berbahaya dari COVID-19. Dikutip dari laman CDC, kasus kematian akibat resistensi antibiotik secara global sejauh ini mencapai 1,27 juta orang.

Kasus resistensi antibiotik juga baru-baru ini terjadi di Spanyol. Pada kasus ini, bakteri yang kebal terhadap antibiotik bergerak dari usus ke paru-paru, dan mungkin kembali lagi ke usus.

Dikutip dari Science Alert, pasien yang tidak disebutkan namanya itu dirawat di unit perawatan intensif di Kota Badalona, Spanyol, setelah mengalami kejang. Selama 39 hari, pasien tersebut diberi bantuan ventilator.

Bersamaan dengan itu, dokter memberikan antibiotik untuk melawan infeksi di saluran udara bagian bawah pasien dan beberapa kali tidak 'mempan'. Berikut riwayat perawatan yang dijalani pasien:

Hari ke-1

Pada hari pertama, paru-paru pasien menunjukkan bukti adanya bakteri yang disebut Pseudomonas aeruginosa atau P. aeruginosa. Ini bakteri penyebab infeksi yang umum terjadi di paru-paru, saluran kemih, dan usus.

Diduga pasien secara tidak sengaja menghirup makanan, air liur, atau muntahan hingga mengalami kejang. Kemudian, ia diberikan alat bantu ventilator.

Hari ke-12

Pasien mengalami infeksi saluran kemih yang langsung diobati oleh dokter dengan antibiotik lain, yakni meropenem. Namun, tak lama setelah pengobatan berakhir, bakteri P. aeruginosa ditemukan di usus pasien untuk pertama kalinya.

Namun, bakteri ini telah resisten terhadap meropenem. Pada akhirnya, garis keturunan bakteri yang resisten di usus berpindah lagi ke paru-paru pasien hingga membuatnya berisiko terkena pneumonia yang mematikan.

Selama dirawat, pasien menjalani skrining kultur sampel darah tidak menunjukkan bukti adanya infeksi P. aeruginosa sama sekali. Bakteri itu hanya ditemukan pada sampel napas dan hasil swab anus. Namun, jika dokter tidak waspada, mereka mungkin tidak akan tahu seberapa parah penyakit pasiennya itu.

Setelah mempelajari keragaman genetik dari semua bakteri yang dikumpulkan dari pasien selama berada di ICU, peneliti menemukan bukti bahwa infeksi kemungkinan berawal dari usus sekitar 3 minggu sebelum dirawat di ICU.

Hari ke-24

Pada hari ke-24 pasien dirawat di ICU, infeksi mulai berkembang dan menetap di paru-parunya. Beruntungnya, sistem kekebalan dari pasien tersebut bekerja dengan baik. Itu membuat pasien bisa kembali pulang setelah dirawat lebih dari sebulan di rumah sakit.

NEXT: Apa Kata Studi?



Simak Video "India Hadapi Pandemi Superbug, Pakar IDI Ingatkan Penggunaan Antibiotik"
[Gambas:Video 20detik]

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT