Bukan Obat Dewa, Pakar Wanti-wanti Sembarangan Pakai Antibiotik Bisa Picu Ini

ADVERTISEMENT

Bukan Obat Dewa, Pakar Wanti-wanti Sembarangan Pakai Antibiotik Bisa Picu Ini

Nurul Febian Danari - detikHealth
Rabu, 30 Nov 2022 12:00 WIB
Antibiotik
Ilustrasi obat antibiotik. (Foto: Getty Images/iStockphoto/Ridofranz)
Jakarta -

Antibiotik adalah obat yang digunakan untuk penyakit yang disebabkan oleh infeksi bakteri. Biasanya, antibiotik dikonsumsi berdasarkan resep dokter.

Penggunaan antibiotik yang sembarangan dalam jangka panjang dapat berakibat fatal, yakni dapat membuat bakteri menjadi resisten. Ini berarti, bakteri akan kebal terhadap antibiotik dan justru jadi sulit untuk disembuhkan.

dr Harry Parathon, SpOG(K) selaku Ketua Komite Pengendalian Resistensi Antimikroba menuturkan bahwa pada perawatan luka, ketika bakteri baru kontaminasi atau kolonisasi, tidak perlu diberikan antibiotik.

"Jadi pada waktu fase bakteri itu masih kontaminasi atau kolonisasi saja, dia tidak menimbulkan reaksi pada tubuh. Itu di sini tidak boleh diberikan antibiotik," jelas dr Harry, pada Virtual Media Briefing "Inovasi Sorbact Mencegah Resistensi Anti Mikroba (AMR) dalam Perawatan Luka" Selasa (29/11/2022).

"Tetapi kalau ada infeksi, daerah sekitarnya ini jadi bernanah, kemudian meradang, kesakitan pasiennya, suhunya meningkat, di sini dia harus mendapat antibiotik," lanjutnya.

Ketika bakteri sudah menjadi resisten, kata dr Harry, luka infeksi akan semakin parah, sulit sembuh, dan tentunya akan mengeluarkan biaya pengobatan yang lebih banyak. Lebih jauh, ini bisa menyebabkan cacat hingga kematian.

Ada beberapa faktor risiko yang menyebabkan infeksi mudah terjadi, antara lain kadar gula tinggi, usia lanjut, ibu hamil, diabetes, obesitas, HIV, penderita kanker, dan perokok.

dr Harry menekankan untuk mencegah bakteri menjadi resisten, jangan menggunakan antibiotik secara berlebihan dan harus berdasarkan hasil pemeriksaan.

"Antibiotik itu bagus kalau digunakan secara baik. Antibiotik jangan digunakan no miss-used jangan digunakan kalau tidak ada indikasi (infeksi), kalau ada indikasi, no over-used, jangan berlebihan," kata dr Harry.

"Jadi gunakanlah secara bertahap, dari yang (dosis) rendah, yang menengah, kalau gagal baru yang tinggi. Dan ini pun ada aturannya, yaitu dengan cara melakukan pemeriksaan mikrobiologi," tambahnya.



Simak Video "Wamenkes soal 'Biang Kerok' Pandemi Tersembunyi"
[Gambas:Video 20detik]
(kna/kna)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT