5 Negara 'Dihantui' Resesi Seks Termasuk di Asia Tenggara

ADVERTISEMENT

5 Negara 'Dihantui' Resesi Seks Termasuk di Asia Tenggara

Sarah Oktaviani Alam - detikHealth
Kamis, 01 Des 2022 10:33 WIB
BEIJING, CHINA -MAY 30: Office workers wait in line to show their health codes and proof of 48 hour negative nucleic acid test, outside an office building after some people returned to work, in the Central Business District on May 30, 2022 in Beijing, China. China is trying to contain a spike in coronavirus cases in Beijing after hundreds of people tested positive for the virus in recent weeks. Local authorities have initiated mass testing, mandated proof of a negative PCR test within 48 hours to enter many public spaces, closed schools and  banned gatherings and inside dining in all restaurants, and locked down many neighborhoods in an effort to maintain the countrys zero COVID strategy. Due to improved control and lower numbers of new cases and reduced spread, municipal officials from Sunday permitted the easing of some restrictions to allow for limited return to office, resumption of public transport, and the re-opening of many shopping malls, parks, and scenic spots with limited capacity in some districts. (Photo by Kevin Frayer/Getty Images)
Ilustrasi resesi seks. (Foto: Getty Images/Kevin Frayer)
Jakarta -

Beberapa negara di dunia kini mengalami penurunan populasi imbas resesi seks. Warganya menolak untuk memiliki keturunan dan banyak wanita yang berhenti melahirkan.

Dikutip dari jurnal The Atlantic, istilah 'resesi seks' merujuk pada penurunan rata-rata jumlah aktivitas seksual yang dialami suatu negara sehingga mempengaruhi tingkat kelahiran yang rendah. Adapun beberapa faktor yang menyebabkan fenomena resesi seks, seperti:

  • Menemukan 'kesenangan' dengan cara lain
  • Seks menyakitkan
  • Permasalahan ekonomi
  • Tingkat pernikahan yang sedikit
  • Stres kerja dan kelelahan

Lalu, negara mana saja yang tengah 'dihantui' resesi seks? Ini daftarnya.

1. Thailand

Thailand dihadapi 'resesi seks' yang menyebabkan angka kelahiran terus menyusut di tengah populasi yang kian menua. Tren demografis di negara tersebut telah mengalami penurunan selama lima tahun terakhir.

Per 2020, menjadi berada di 1,24, lebih rendah dari tingkat penggantian populasi sekitar 1,6. Laporan tersebut bak menjadi pukulan ganda bagi Thailand.

Hal ini membuat pemerintah mendorong banyak pasangan untuk memiliki bayi. Melihat ini, para ahli keluarga berencana meminta pemerintah memberikan perhatian lebih pada populasi yang menua agar tetap produktif.

"Kita harus memikirkan kembali persepsi kita tentang demografi senior. Karena jika kita tidak mengubah tantangan ini menjadi peluang, itu tentu akan terjadi krisis," kata Asisten Profesor Piyachart Phiromswad, yang berspesialisasi dalam ekonomi kependudukan di Thailand, dikutip dari The Guardian.

2. Korea Selatan

Pada 2021, Korea Selatan mencatat tingkat kesuburan hanya 0,81 persen. Padahal, idealnya satu negara memiliki tingkat kesuburan hingga 2,1 persen yang bertujuan untuk menjaga populasi.

Beberapa hal yang menyebabkan kondisi ini seperti anak-anak muda yang tidak mau menikah. Selain itu, para wanita yang sudah menikah memilih untuk tidak memilih hamil. Warganya menganggap anak-anak mereka kelak tidak bisa memiliki hidup yang lebih baik.

"Singkatnya, orang mengira negara kita bukanlah tempat yang mudah untuk ditinggali," kata Lee So-Young, pakar kebijakan kependudukan di Institut Korea untuk Urusan Kesehatan dan Sosial di Korea Selatan.

"Mereka percaya anak-anak mereka tidak dapat memiliki kehidupan yang lebih baik daripada mereka, jadi mempertanyakan mengapa mereka harus bersusah payah untuk memiliki bayi," lanjutnya.

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT