Penampakan 'Virus Zombie' di Rusia yang Bikin Ilmuwan Ketar-Ketir

ADVERTISEMENT

Penampakan 'Virus Zombie' di Rusia yang Bikin Ilmuwan Ketar-Ketir

Suci Risanti Rahmadania - detikHealth
Jumat, 02 Des 2022 12:33 WIB
ILULISSAT, GREENLAND - AUGUST 04: Icebergs float in Disko Bay at sunset on August 04, 2019 near Ilulissat, Greenland. The Sahara heat wave that recently sent temperatures to record levels in parts of Europe has also reached Greenland. Climate change is having a profound effect in Greenland, where over the last several decades summers have become longer and the rate that glaciers and the Greenland ice cap are retreating has accelerated.   (Photo by Sean Gallup/Getty Images)
Ilustrasi ilmuwan menemukan virus zombie di lapisan tanah beku (Foto: Getty Images)
Jakarta -

Dunia kini dihebohkan dengan 'virus zombie'. Tim peneliti dari Rusia, Jerman, dan Prancis baru-baru ini memeriksa virus tersebut yang berasal dari permafrost di Siberia, Rusia. Permafrost adalah lapisan tanah beku yang berada di bawah suhu 0 derajat Celcius selama beberapa tahun.

Berdasarkan studi yang dipublikasikan di BioRxiv, para peneliti telah 'menghidupkan kembali' dan mengelompokkan 13 patogen berusia lebih dari 48.500 tahun yang diberi nama 'virus zombie. Peneliti juga menyebut virus itu tetap bisa menular meski sudah terperangkap ribuan tahun di tanah beku.

Adapun penampakan virusnya sebagai berikut.

'virus zombie''virus zombie' Foto: biorxiv.org

Dari gambar di atas, terlihat ada sejumlah gambar virus yang ditemukan. Gambar A, merupakan partikel ovoid besar dengan panjang 1.000 nm (nanometer) dari Pandora Viruses dengan ostiole apeksnya yang khas (kepala panah putih). Gambar B merupakan campuran partikel Pandoravirus dan partikel icosahedral Megavirus, menunjukkan "stargate" (struktur seperti bintang laut putih memahkotai puncak, panah putih).

Kemudian pada gambar C merupakan partikel memanjang dari Cedratvirus (panjang 1.500 nm), yang memperlihatkan dua struktur seperti gabus apeks (panah putih). Sementara gambar D merupakan partikel memanjang dari Pithovirus (panjang 1.900 nm) menunjukkan struktur seperti gabus apeks tunggal (panah putih).

Gambar E merupakan partikel ikosahedral "berbulu" besar (berdiameter 770 nm) dari Megavirus, dengan "stargate" (panah putih) yang menonjol. Terakhir gambar F merupakan partikel icosahedral yang lebih kecil (berdiameter 200 nm) tipikal dari Asfarvirus/Pacmanvirus.

Lebih lanjut, para ilmuwan telah lama memperingatkan bahwa pencairan permafrost akibat pemanasan atmosfer akan memperburuk perubahan iklim dengan membebaskan gas rumah kaca yang sebelumnya terperangkap seperti metana. Tetapi efeknya pada patogen yang tidak aktif kurang dipahami dengan baik.

Menghidupkan kembali virus ini disebut para ilmuwan adalah untuk mempelajari potensi keganasan yang bisa timbul di masa mendatang akibat pemanasan global.

Dalam studinya, para peneliti menetapkan bahwa masing-masing virus yang telah diekstraksi dari permukaan dingin Siberia yang mencair berbeda dari semua virus yang ada yang diketahui dalam hal genomnya.

"Permafrost kuno kemungkinan akan melepaskan virus yang tidak diketahui ini saat dicairkan," tulis peneliti

"Berapa lama virus ini dapat tetap menular setelah terpapar kondisi luar ruangan, dan seberapa besar kemungkinan mereka akan bertemu dan menginfeksi inang yang sesuai dalam interval tersebut, masih belum dapat diperkirakan," pungkasnya.



Simak Video "China Nilai Pembatasan yang Targetkan Pelancongnya Tak Masuk Akal"
[Gambas:Video 20detik]
(suc/kna)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT