Diterpa Resesi Seks, Populasi Jepang Menyusut Imbas Anak Muda Ogah Menikah

ADVERTISEMENT

Diterpa Resesi Seks, Populasi Jepang Menyusut Imbas Anak Muda Ogah Menikah

Sarah Oktaviani Alam - detikHealth
Sabtu, 03 Des 2022 17:09 WIB
BEIJING, CHINA -MAY 30: Office workers wait in line to show their health codes and proof of 48 hour negative nucleic acid test, outside an office building after some people returned to work, in the Central Business District on May 30, 2022 in Beijing, China. China is trying to contain a spike in coronavirus cases in Beijing after hundreds of people tested positive for the virus in recent weeks. Local authorities have initiated mass testing, mandated proof of a negative PCR test within 48 hours to enter many public spaces, closed schools and  banned gatherings and inside dining in all restaurants, and locked down many neighborhoods in an effort to maintain the countrys zero COVID strategy. Due to improved control and lower numbers of new cases and reduced spread, municipal officials from Sunday permitted the easing of some restrictions to allow for limited return to office, resumption of public transport, and the re-opening of many shopping malls, parks, and scenic spots with limited capacity in some districts. (Photo by Kevin Frayer/Getty Images)
Jepang dihantui resesi seks, anak muda ogah menikah. (Foto ilustrasi: Getty Images/Kevin Frayer)
Jakarta -

Angka kelahiran bayi di Jepang tahun ini berada di bawah rekor terendah tahun lalu. Melihat ini, Pemerintah Jepang menyebut negaranya dalam 'situasi kritis'.

Kepala Sekretaris Kabinet Hirukazu Matsuno mengatakan total kelahiran di Jepang pada Januari-September adalah 599.636. Ini mungkin menunjukkan jumlah kelahiran sepanjang tahun 2022 mungkin turun di bawah rekor terendah tahun lalu, yakni sebesar 811.000 bayi.

"Kecepatannya bahkan lebih lambat dari tahun lalu. Saya mengerti bahwa ini adalah situasi kritis," kata Matsuno yang dikutip dari ABC News, Sabtu (3/12/2022).

Situasi kritis tersebut dipengaruhi oleh 'resesi seks' yang terjadi negara tersebut. Dikutip dari jurnal The Atlantic, istilah 'resesi seks' merujuk pada penurunan rata-rata jumlah aktivitas seksual yang dialami suatu negara sehingga mempengaruhi tingkat kelahiran yang rendah.

Di Jepang, banyak anak muda yang menolak keras untuk menikah dan memiliki keluarga. Hal ini dipicu prospek pekerjaan yang suram, perjalanan yang berat, dan budaya perusahaan yang tidak sesuai dengan kedua orang tua yang bekerja.

Upaya Pemerintah Jepang

Untuk mengatasinya, Matsuno mengatakan pemerintah telah menjanjikan langkah-langkah komprehensif untuk mendorong lebih banyak orang untuk menikah dan meningkatkan angka kelahiran.

Sejauh ini, upaya yang dilakukan pemerintah agar masyarakat ingin memiliki lebih banyak anak masih terbatas. Beberapa upaya tersebut seperti pemberian subsidi untuk kehamilan, persalinan, hingga perawatan anak.

Selama 14 tahun, populasi di Jepang telah menurun sebanyak 125 juta bahkan diperkirakan akan turun menjadi 87,7 juta pada tahun 2060. Populasi yang menyusut dan menua memiliki implikasi besar bagi ekonomi dan keamanan nasional karena negara tersebut membentengi militernya untuk melawan China yang semakin tegas.



Simak Video "Populasi Menurun dalam 60 Tahun, Generasi Muda China Enggan Berkeluarga"
[Gambas:Video 20detik]
(sao/vyp)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT