Drama Calon Dokter Spesialis: Cari Rekomendasi Sulit, Saingannya Anak Profesor

ADVERTISEMENT

Drama Calon Dokter Spesialis: Cari Rekomendasi Sulit, Saingannya Anak Profesor

Nafilah Sri Sagita K - detikHealth
Senin, 05 Des 2022 15:33 WIB
Nurse in a corridor while holding her head in a hospital
Drama rumitnya jadi dokter spesialis. (Foto: Getty Images/bymuratdeniz)
Jakarta -

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengaku banyak menerima permintaan rekomendasi untuk dokter residen atau yang menempuh program pendidikan dokter spesialis (PPDS) berpraktik di rumah sakit. Kerap dikaitkan dengan 'kasta' anak profesor hingga dokter.

Menurut Budi, banyak dari mereka yang akhirnya otomatis tidak terpilih jika dihadapkan bersaing seperti dengan turunan 'darah biru'. ''Oh saya spesialis, tapi mau masuk satu kota susah pak, karena nggak dikasih rekomendasi dari yang di sana, kalau dikasih rekomendasi, dikasih-nya ke tempat lain,'' cerita dia dalam diskusi bersama dokter residen, Minggu (5/12/2022).

''Saya jadi menteri banyak sekali yang minta personal favor untuk bisa jadi spesialis, banyak banget, aku tanya kenapa sih? Bukannya gampang ya ada ujian-ujiannya tinggal masuk?,'' tanya Menkes.

Hal semacam ini yang disebut Menkes bakal diluruskan melalui reformasi kesehatan berdasarkan peraturan. Sulitnya mendapatkan izin praktik dokter spesialis diyakini Menkes menjadi persoalan utama angka kematian akibat penyakit seperti jantung hingga stroke relatif tinggi lantaran kekurangan tenaga kesehatan di banyak daerah.

Jika tidak ada reformasi perubahan aturan, Menkes menyebut pemerintah sulit memenuhi kebutuhan dokter spesialis dalam waktu cepat. Minimal butuh puluhan tahun lamanya, sementara setiap tahun laporan kematian akibat penyakit menular maupun tidak menular dan beban kesehatan terus merangkak naik.

''Kenapa aku bilang darah biru? Karena ya buktinya aku terima banyak sekali, oh harus rekomendasi menteri ya? Iya Pak kalau nggak, aku nggak bisa masuk. Kenapa nggak bisa masuk? Iya saya kalah lah Pak, kalau dapat rekomendasi anaknya profesor, atau anaknya dokter,'' kata dia.

''That's what i heard. jadi aku kadang iseng juga aku tanya semua dokter spesialis di RSCM, bapak ibunya siapa sih, aku ada datanya juga, jadi pendebatannya lebih anak, aku lihatin datanya,'' pungkas dia.

Di sisi lain, Budi menekankan ke depan pemerintah bakal memprioritaskan penanganan kesehatan di promotif dan preventif, salah satunya meningkatkan paket layanan di puskesmas posyandu prima hingga posyandu.



Simak Video "Dokter Spesialis Paru Bicara soal Viral Emak-emak Inhalasi Hidrogen"
[Gambas:Video 20detik]
(naf/up)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT