Soal COVID-19 Diklaim Buatan Manusia, Begini Buka-bukaan Eks Pekerja Lab Wuhan

ADVERTISEMENT

Soal COVID-19 Diklaim Buatan Manusia, Begini Buka-bukaan Eks Pekerja Lab Wuhan

Vidya Pinandhita - detikHealth
Senin, 05 Des 2022 18:01 WIB
This aerial view shows the P4 laboratory (centre L) on the campus of the Wuhan Institute of Virology in Wuhan in Chinas central Hubei province on May 27, 2020. - Opened in 2018, the P4 lab conducts research on the worlds most dangerous diseases and has been accused by some top US officials of being the source of the COVID-19 coronavirus pandemic. Chinas foreign minister on May 24 said the country was
Foto: AFP via Getty Images/HECTOR RETAMAL
Jakarta -

Seorang ahli epidemiologi yang sempat bekerja di laboratorium Wuhan baru-baru ini menguak asal-usul COVID-19. Dalam buku berjudul 'The Truth about Wuhan', dr Andrew Huff menyebut virus Corona adalah buatan manusia yang bocor dan merebak akibat buruknya sistem biosekuriti.

Diketahui, dr Huff sempat bekerja di salah satu laboratorium Wuhan tempat eksperimen dengan berbagai patogen berbahaya. Menurut dr Huff, COVID-19 adalah hasil kebocoran dari Institut Virologi Wuhan di China.

Ia mengaku, dirinya berada di sana ketika pemerintah Amerika Serikat mendanai studi dan pembuatan banyak virus di laboratorium. Namun, gedung tersebut tidak difasilitasi sistem keamanan yang mumpuni. Walhasil, terjadilah kebocoran virus yang kemudian merebak dan memicu pandemi COVID-19.

Teori Serupa Sempat Disangkal WHO

Pada awal tahap pandemi COVID-19, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sempat mempertahankan teori yang menyebut, COVID-19 bermula dari penularan di pasar basah. Namun seiring waktu, Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus kemudian mengaku pada politisi Eropa, dirinya khawatir virus Corona betul bermula dari kebocoran di laboratorium. Ia menyebut insiden tersebut sebagai 'kecelakaan bencana' (catastrophic accident).

Selama bertahun-tahun, para ahli yang mempelajari asal-muasal COVID-19 meyakini bahwa virus Corona adalah hasil kebocoran dari ilmuwan yang terinfeksi, atau pembuangan limbah yang tidak benar dari laboratorium.

Hingga kini, beredar pengakuan dr Huff yang sempat bekerja untuk EcoHealth Alliance dan menjadi wakil presiden perusahaan. Perusahaan ini telah mempelajari virus Corona yang berbeda pada kelelawar selama lebih dari satu dekade menggunakan dana dari National Institutes of Health (NIIH). Mereka juga telah menjalin hubungan dekat dengan laboratorium Wuhan selama bertahun-tahun.

"Laboratorium asing tidak memiliki tindakan pengendalian yang memadai untuk memastikan keamanan hayati, keamanan hayati, dan manajemen risiko yang tepat, yang pada akhirnya mengakibatkan kebocoran laboratorium di Institut Virologi Wuhan," beber dr Huff dalam tulisannya, dikutip dari Marca, Senin (5/12/22022).

"Kami membantu laboratorium Wuhan menyusun metode terbaik yang ada untuk merekayasa virus Corona kelelawar untuk menyerang spesies lain. China mengetahui sejak hari pertama bahwa ini adalah agen rekayasa genetika. Pemerintah AS harus disalahkan atas transfer bioteknologi berbahaya ke China," sambungnya.



Simak Video "99% Warga RI Kebal Covid-19, Kemenkes: Kuncinya Kelengkapan Vaksin"
[Gambas:Video 20detik]
(vyp/naf)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT