Sulitnya Jadi Dokter Spesialis di Tengah Keterbatasan Dokter RI

ADVERTISEMENT

Round Up

Sulitnya Jadi Dokter Spesialis di Tengah Keterbatasan Dokter RI

Khadijah Nur Azizah - detikHealth
Selasa, 06 Des 2022 08:02 WIB
Jakarta -

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan akan memperbanyak dokter spesialis dengan menyediakan kemudahan bagi yang akan menempuh Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS). Hanya saja faktanya banyak sekali tantangan yang dihadapi oleh calon dokter spesialis ini mulai dari tekanan berlebihan sampai perundungan.

Salah satu dokter residen mengeluhkan kurangnya waktu istirahat. Di pagi hari, mereka harus melakukan morning report untuk membahas temuan kasus yang masuk ke IGD di malam hari saat berjaga.

Setelah itu mereka memberi pelayanan di siang hari dan juga berjaga di malam hari.

"Itu kenapa kita (dokter) residen ini power nap, Pak Menteri," curhat calon dokter spesialis Jagaddhito Probokusumo kepada Menkes.

Selain itu para dokter residen tidak digaji. Padahal Dalam UU Dikdok 2013, dokter residen harus diberikan insentif karena mereka melayani masyarakat.

Belum lagi adanya 'tradisi' bullying yang diterima para dokter residen. Hal ini disebut menghambat jumlah produksi dokter spesialis di Indonesia. Seleksi tak transparan hingga perlunya rekomendasi bagi mahasiswa 'bukan darah biru'.

Respons Menkes

Menkes Budi juga menyebut banyak menerima laporan permintaan rekomendasi untuk dokter residen atau menempuh program pendidikan dokter spesialis (PPDS) yang berpraktik di rumah sakit.

Hal inilah yang harus diluruskan melalui reformasi kesehatan berdasarkan peraturan. Jika tidak ada, Menkes menyebut pemerintah akan sulit memenuhi kebutuhan dokter spesialis dalam waktu cepat.

Melalui reformasi UU Kesehatan, hal semacam ini yang ingin diluruskan Menkes. Akselerasi kemudian didorong tidak hanya melalui universitas, tetapi juga kebijakan rumah sakit untuk memangkas teknis izin sehingga bisa segera berpraktik.

"Intinya, perbanyak dokter spesialis, nyatanya dampak ke layanan kesehatan, rakyat meninggal ga terlayani 20 ribu bayi, masa kita tega," ujar Menkes.

(kna/vyp)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT