Termasuk Perkosaan di KUHP Baru, Seks Oral Sebenarnya Bahaya Nggak Sih?

ADVERTISEMENT

Termasuk Perkosaan di KUHP Baru, Seks Oral Sebenarnya Bahaya Nggak Sih?

Vidya Pinandhita - detikHealth
Rabu, 07 Des 2022 09:30 WIB
ilustrasi
Foto: Edi Wahyono
Jakarta -

DPR RI resmi mengesahkan RKUHP menjadi Undang-undang dalam Rapat Paripurna kemarin, Selasa (6/12/2022). Salah satu pasal memuat Bab Perkosaan, berisi perluasan definisi tentang tindakan perkosaan. Salah satunya, kini seks oral yang dilakukan secara paksa juga bisa tergolong bentuk pemerkosaan.

Dalam KUHP sebelumnya, yang dimaksud sebagai 'pemerkosaan' adalah paksaan pria memasukkan alat kelaminnya ke alat kelamin perempuan yang bukan istrinya.

Namun dalam KUHP baru yang disahkan kemarin, definisi tentang bentuk perkosaan diperluas menjadi ada 8 poin. Dua poin di antaranya, dalam bab Perkosaan Pasal 473 RKUHP versi 30 November, berbunyi:

  • memasukkan alat kelamin ke dalam anus atau mulut orang lain (pada poin 6)
  • memasukkan alat kelamin orang lain ke dalam anus atau mulutnya sendiri (pada poin 7)

Melihat Dampak Seks Oral Secara Medis

Pakar seks dr Boyke Dian Nugraha, SpOG menegaskan semua tindakan seks harus dengan persetujuan pasangan, tidak terkecuali aktivitas seks oral.

Namun jika ditelaah terlepas dari konteks perkosaan, seks oral adalah variasi seks yang tidak memicu efek samping berbahaya. Asalkan, orang yang melakukan tidak sedang mengidap penyakit seksual.

"Seks oral itu bagian dari variasi seks. Tidak berbahaya, kecuali kalau salah satu pasangan menderita penyakit menular seksual. Misalnya gonore (kencing nanah). Maka bisa terjadi gonore di tenggorokan atau pharingitis GO," jelasnya pada detikcom, Senin (5/12) malam.

"Semua tindakan seks harus persetujuan pasangan. Kalau pasangan tidak mau ya jangan," tegas dr Boyke lebih lanjut.



Simak Video "Alasan Harus Berhenti Ikutan Fenomena FWB Menurut dr Boyke"
[Gambas:Video 20detik]

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT