Termasuk Bagian dari Perkosaan di KUHP Baru, Apa Itu Seks Oral?

ADVERTISEMENT

Termasuk Bagian dari Perkosaan di KUHP Baru, Apa Itu Seks Oral?

Suci Risanti Rahmadania - detikHealth
Rabu, 07 Des 2022 11:47 WIB
Ilustrasi Pembunuhan Pemerkosaan
Ilustrasi (Foto: Ilustrator Mindra Purnomo)
Jakarta -

Apa itu seks oral? Baru-baru ini Dewan Perwakilan Rakyat (DPR RI) dan pemerintah resmi mengesahkan Rancangan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (RKUHP) menjadi undang-undang dalam rapat Paripurna yang digelar di kompleks parlemen, Selasa (6/12/2022).

Adapun salah satu pasal memuat bab Perkosaan yang berisi perluasan definisi tentang tindakan perkosaan. Berdasarkan Pasal 473 RKUHP versi 30 November, kini tidak hanya memasukkan alat kelamin pria ke alat kelamin wanita, sejumlah tindakan kekerasan seksual lain seperti seks oral juga bisa dikenai hukuman pidana penjara 12 tahun.

Sebagaimana diketahui, dalam RKUHP sebelumnya, definisi pemerkosaan yang dimaksud adalah paksaan pria memasukkan alat kelamin ke alat kelamin perempuan yang bukan istrinya.

Apa Itu Seks Oral?

Dikutip dari Centers for Disease Control and Prevention (CDC AS), seks oral adalah jenis seks yang melibatkan penggunaan mulut untuk merangsang alat kelamin atau area genital pasangan seks. Terdapat beberapa jenis seks oral, yaitu penis (fellatio), vagina (cunnilingus), dan anus (anilingus).

Seks oral umumnya dilakukan oleh orang dewasa yang aktif secara seksual. Lebih dari 85 persen orang dewasa yang aktif secara seksual berusia 18-44 tahun dilaporkan melakukan seks oral setidaknya sekali dengan pasangan lawan jenis. Survei terpisah yang dilakukan selama 2011 hingga 2015 menemukan bahwa 41 persen remaja berusia 15-19 tahun melaporkan melakukan seks oral dengan pasangan lawan jenis.

Bahaya Seks Oral Secara Medis

Seks oral bisa memicu efek samping berbahaya, seperti terkena penyakit menular seksual (PMS). Pasalnya, banyak PMS dan infeksi lainnya yang bisa menyebar melalui seks oral. Mereka yang terpapar dari pasangan yang terinfeksi dapat terkena PMS di mulut, tenggorokan, alat kelamin, atau rektum.

Meski begitu, risiko terkena PMS atau menularkan PMS ke orang lain melalui seks oral tergantung pada beberapa hal, termasuk PMS tertentu, jenis kelamin, dan tindakan seksual yang dilakukan.

Pakar seks dr Boyke Dian Nugraha, SpOG, juga menegaskan seks oral adalah variasi seks yang tidak memicu efek samping berbahaya, jika orang yang melakukan tidak sedang mengidap penyakit seksual atau dalam kondisi sehat.

"Seks oral itu bagian dari variasi seks. Tidak berbahaya, kecuali kalau salah satu pasangan menderita penyakit menular seksual. Misalnya gonore (kencing nanah). Maka bisa terjadi gonore di tenggorokan atau pharingitis GO," jelasnya pada detikcom, Senin (5/12) malam.

"Semua tindakan seks harus persetujuan pasangan. Kalau pasangan tidak mau ya jangan," tegas dr Boyke lebih lanjut.

Penggunaan Kondom Buat Seks Oral

Penggunaan kondom untuk seks oral memang bisa meminimalkan penularan penyakit seksual. Namun kata dr Boyke, tidak semua penyakit bisa dicegah penularannya dengan kondom. Sebab kondom hanya bisa mencegah penularan bakteri, namun tidak dengan virus.

"(Penggunaan kondom dalam aktivitas seks oral) cukup efektif untuk bakteri (gonore, sifilis, dan lain-lain). Tapi untuk virus kurang efektif karena pori-pori kondom lebih besar dari ukuran virus (misal HIV, herpes)," jelasnya.

"Perhatikan juga kualitas kondom. Ada yg mudah robek, apalagi terkena gigi," pungkas dr Boyke.



Simak Video "99 Persen Masyarakat Indonesia Sudah Punya Antibodi Virus Corona"
[Gambas:Video 20detik]
(suc/kna)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT