Pakar Pengobatan China Sarankan COVID-19 Ganti Nama, Kenapa?

ADVERTISEMENT

Pakar Pengobatan China Sarankan COVID-19 Ganti Nama, Kenapa?

Hana Nushratu - detikHealth
Rabu, 07 Des 2022 14:29 WIB
China menerapkan pembatasan ketat di kawasan Beijing imbas penyebaran virus Corona. Salah satu kota terbesar di China itu kini sepi. Ini penampakannya.
Istilah China COVID-19 yang resmi akan diganti sesuai saran pakar pengobatan China.(Foto: AP Photo/Andy Wong)
Jakarta -

Otoritas terkemuka pengobatan China mengatakan bahwa istilah COVID-19 di Negeri Tirai Bambu tersebut harus diganti. Dikutip dari Reuters, alasan pergantian nama tersebut untuk mencerminkan mutasi virus.

Selain itu, mereka juga menyarankan pasien dengan gejala ringan dapat diperkenankan untuk dikarantina di rumah.

Tidak disebutkan nama apa yang diusulkan sebagai pengganti COVID-19. Namun dikutip dari Reuters, otoritas yang dimaksud menilai nama resmi COVID-19 dalam bahasa China diidentifikasi sebagai 'penyakit penyebab pneumonia'.

Pakar pengobatan tradisional China, Gu Xiaohong, sebagaimana dikutip dari harian Beijing Daily yang dikelola pemerintah, mengusulkan nama baru dengan makna yang lebih sederhana, yakni 'virus menular' saja.

Saat ini, pendekatan China terhadap COVID-19 menekankan testing secara luas dan karantina kasus positif di fasilitas khusus. Metode tersebut harus diubah dari 'deteksi pasif' menjadi 'pencegahan aktif', dengan pemulihan di rumah untuk kasus ringan.

Gu mengatakan Asosiasi Pengobatan China yang dia pimpin, telah mencapai konsensus untuk mengubah cara mereka menggambarkan virus. Penyataan tersebut sejalan dengan dengan pemerintah China beserta pihak berwenang yang telah melonggarkan pembatasan aturan COVID-19 terketat di dunia.

Langkah tersebut diharapkan dapat menandai perubahan yang lebih nyata menuju keadaan normal tiga tahun sejak pandemi. Para pejabat juga mulai menganggap remeh bahaya yang ditimbulkan oleh virus tersebut.

"Periode paling sulit sudah terlewati," tulis kantor berita resmi Xinhua, Senin (5/12/2022), mengutip melemahnya patogenisitas virus dan upaya untuk memvaksinasi 90 persen populasi.



Simak Video "China Merasa Terdiskriminasi Gegara Pembatasan Covid-19"
[Gambas:Video 20detik]
(hnu/up)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT