Heboh Video Syur Diduga Rebecca Klopper, Psikolog Tegaskan Sefatal Ini Efeknya

Terpopuler Sepekan

Heboh Video Syur Diduga Rebecca Klopper, Psikolog Tegaskan Sefatal Ini Efeknya

Dinda Zahra Ghaisani Usdi - detikHealth
Sabtu, 27 Mei 2023 15:00 WIB
Heboh Video Syur Diduga Rebecca Klopper, Psikolog Tegaskan Sefatal Ini Efeknya
(Foto: Instagram @rklopperr)
Jakarta -

Belakang ini, video syur yang menyeret nama artis Rebecca Klopper menjadi perbincangan hangat di media sosial. Ini bukan kali pertama muncul isu video syur yang menyandung nama artis. Di media sosial, sejumlah netizen saling menyebar dan latah minta link video.

Merasa dirugikan, Rebecca pun melaporkan pemilik akun penyebar video yang menyeret namanya.

"Hari Senin kemarin tanggal 22 Mei 2023, pukul 16.45 WIB berdasarkan laporan polisi LP/B/113/V/2023/SPKT/BARESKRIM POLRI, penerima kuasa RK melaporkan pemilik akun Twitter @dedekkugem atas dugaan pidana dengan sengaja dan tanpa hak mendistribusikan dan atau mentransmisikan dan atau membuat akses pengiriman elektronik dan atau dokumen elektronik yang memuat kesusilaan," ungkap Karopenmas Divhumas Polri Brigjen Ahmad Ramadhan, dikutip dari detikHot, Kamis (25/5/2023).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Adapun barang bukti yang didapat screenshot akun Twitter @dedekkugem dengan pelapor yaitu penerima kuasa RAPK alias RK yang merupakan korban dari dugaan tindak pidana di atas," sambung Brigjen Ahmad.

Psikolog Ingatkan Bahaya Sebar Video Syur

Psikolog klinis dan founder pusat Konsultasi Anastasia and Associate, Anastasia Sari Dewi, menyayangkan maraknya netizen saling menyebar video syur. Pasalnya, komentar netizen yang bersifat menghujat berisiko menimbulkan depresi pada orang yang disudutkan dalam video.

ADVERTISEMENT

"Sangat disayangkan apabila netizen ikut-ikutan menyebarluaskan seperti mempermalukan seseorang di kalangan ramai. Apalagi kalau ditambah komentar-komentar yang sifatnya menghujat, merendahkan, menyudutkan yang nantinya tentu saja bisa berdampak secara psikologis bagi sosok tersebut," terangnya kepada detikcom, Senin (23/5).

Salah satu efek yang dikhawatirkan adalah kemungkinan seseorang menjadi terintimidasi, bahkan tidak lagi mau untuk menghadapi lingkungan sekitar, setelah mendapat hujatan dan omongan menyakitkan dari pengguna media sosial.

"Bisa menimbulkan depresi yang sangat besar. Apalagi kalau misalkan kalunya itu ternyata bisa menimbulkan ketidakberanian untuk menghadapi lagi dunia atau lingkungan sekitar. Kalau sampai seperti itu bisa fatal akibatnya bagi seseorang untuk meneruskan hidup. Ini kan berbahaya," sambung Sari.

Senada dengan itu, psikolog pro Help Center Nuzulia Rahma Tristinarum sempat mengingatkan netizen untuk memposisikan diri sebagai orang yang disinggung dalam video tersebut.

Alih-alih terbuai rasa penasaran, ada baiknya kembali memperhitungkan adakah manfaat di balik ikut-ikutan meminta link video syur.

"Biar nggak latah nanya link video tersebut, sebaiknya fokus pada diri sendiri. Coba tanya diri sendiri. Apa yang aku inginkan dari video itu? Apa ada manfaatnya bagiku? Apa sudah terbukti valid atau bukan hoax?" jelasnya beberapa waktu lalu.

Revenge Porn vs NCII, Apa Bedanya?

Di tengah kehebohan tersebut, muncul perdebatan netizen mengenai motif penyebaran video. Sebagian berpendapat bahwa video tersebut berkaitan dengan revenge porn, sementara yang lain mengaitkannya dengan penyebaran konten intim non konsensual atau nonconsensual dissemination of intimate image (NCII).

Menanggapi hal ini, psikolog klinis sekaligus co-founder Ohana Space Veronica Adesla, Psi menyebut revenge porn dan NCII merupakan hal yang berbeda.

"Kalau NCII ini kan sebenarnya dia mencakup kalau orang tersebut memproduksi (mengambil gambar, video), kemudian menyebarkan, mempublish, memproduksi ulang konten ini tanpa adanya izin (without consent), itu masuk ke dalam NCII ini," kata Veronica, saat dihubungi detikcom, Rabu (24/5).

"Nah sementara, kalau revenge porn ini kan dia memang udah masuk ke dalam, baik penyebaran foto atau video intim gitu ya, dengan motifnya adalah balas dendam," lanjutnya.

Veronica menyebut, revenge porn masuk ke dalam NCII. Sebaliknya, NCII belum tentu revenge porn karena didasari oleh berbagai macam motif di baliknya. Biasanya, beberapa motif yang melatarbelakangi seseorang melakukan NCII, di antaranya balas dendam (revenge porn), pemerasan (blackmail), atau keuntungan pribadi (misalnya untuk dijual ke situs porno).

Menurutnya, istilah revenge porn lebih populer di telinga khalayak lantaran kerap dibicarakan. Padahal, jika ditelisik lebih lanjut, kasus NCII jauh lebih banyak ketimbang revenge porn. Hanya saja, istilah ini memang masih belum familiar di sebagian masyarakat.

Meski begitu, kedua hal ini memiliki efek psikologis yang sama bagi korbannya. Keduanya dapat memicu gangguan mental seperti post-traumatic stress disorder (PTSD), depresi, dan gangguan kecemasan (anxiety).

Selain itu, efek lainnya yang dirasakan korban NCII dan revenge porn yaitu merasa dirinya tidak lagi berharga. Tak hanya sampai situ saja, korban juga berpotensi merasakan tekanan dari luar seperti dikucilkan dari lingkungan, kehilangan pekerjaan, hingga dirundung orang sekitar.

Halaman 2 dari 2
(vyp/vyp)

Berita Terkait