Perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) mulai mengubah banyak aspek pengobatan kanker, termasuk radioterapi. Salah satu inovasi yang kini banyak dibicarakan adalah adaptive radiotherapy (ART), teknologi yang memungkinkan terapi radiasi menyesuaikan perubahan bentuk tumor secara real time selama pengobatan berlangsung.
Associated Chief Physician Department of Radiation Oncology Sun Yat-sen University Cancer Center, Guangzhou, China, Dr. Baiqiang Dong menyebut teknologi ini menjadi salah satu langkah besar menuju era precision oncology, yakni pengobatan kanker yang semakin personal dan spesifik untuk tiap pasien.
Menurutnya, selama ini radioterapi konvensional masih memiliki tantangan besar karena kondisi tumor dan tubuh pasien dapat berubah selama terapi berlangsung. Tumor bisa mengecil, bergeser, hingga berubah bentuk akibat gerakan organ tubuh seperti paru dan hati.
Padahal dalam radioterapi biasa, rencana penyinaran umumnya hanya dibuat satu kali lalu digunakan selama berminggu minggu pengobatan.
"Sekitar 90 persen kegagalan lokal setelah radioterapi terjadi langsung di area radiasi. Salah satu penyebab utamanya adalah resistensi radiasi dan target yang tidak tepat," jelas Dr Baiqiang Dong dalam sesi interview di acara The 6th Siloam Oncology Summit di Shangri-La Hotel Jakarta, Sabtu (23/5/2026).
Ia menjelaskan kondisi pasien sebenarnya dapat berubah setiap hari selama menjalani radioterapi. Mulai dari penyusutan tumor, perubahan posisi organ, gerakan pernapasan, hingga penurunan berat badan. Semua perubahan itu dapat memengaruhi ketepatan sasaran radiasi.
Pada kanker paru misalnya, tumor dapat bergerak mengikuti proses napas pasien. Setelah kemoterapi atau beberapa sesi radiasi, ukuran tumor juga bisa mengecil cukup signifikan. Jika dokter masih menggunakan rencana radiasi awal, jaringan sehat di sekitar tumor justru bisa ikut terkena paparan.
"Kalau kita masih menggunakan rencana radioterapi asli, beam akan mengenai jaringan sehat dan organ lain berisiko," ujarnya.
Bagaimana AI Membantu Radioterapi Jadi Lebih Presisi?
Dr Baiqiang Dong menjelaskan teknik adaptive radiotherapy bekerja dengan memadukan CT scan empat dimensi, AI, dan linear accelerator dalam satu sistem terintegrasi yang dikenal sebagai integrated CT Linac. Teknologi ini memungkinkan pencitraan pasien dilakukan langsung sebelum terapi sehingga radiasi bisa disesuaikan dengan kondisi anatomi pasien pada hari tersebut atau anatomy of the day.
Jika bentuk atau posisi tumor berubah, sistem akan langsung membuat penyesuaian baru terhadap area penyinaran radiasi.
"Berdasarkan AI, kita bisa menentukan bentuk tumor dengan cepat. Ini membuat terapi menjadi lebih tepat," katanya.
Dalam praktiknya, workflow integrated CT Linac dimulai dari daily CT imaging sebelum terapi dilakukan. Setelah itu dokter mengevaluasi perubahan anatomi pasien, lalu AI membantu proses contouring atau pemetaan tumor, adaptive treatment planning, hingga quality assurance otomatis sebelum penyinaran dilakukan.
Teknologi integrated CT Linac modern juga dilengkapi AI enhanced imaging yang membantu meningkatkan kualitas citra Cone Beam dan Fan Beam CT, mempercepat imaging, dan meningkatkan ketepatan identifikasi tumor. Beberapa sistem bahkan sudah mendukung online adaptive radiotherapy dan real time imaging saat pasien masih berada di meja terapi.
Dr Baiqiang Dong menyebut AI membuat proses yang sebelumnya membutuhkan waktu berjam jam kini dapat dilakukan hanya dalam hitungan menit.
"Pasien yang biasanya membutuhkan jam dan waktu telah dikontur dalam menit sementara pasien berada di meja terapi," jelasnya.
Teknologi ini sangat bermanfaat terutama pada kanker yang mudah berubah posisi atau bentuk selama terapi seperti kanker paru, prostat, kepala leher, pankreas, gastrointestinal, hingga kanker hati.
(mal/up)