Kelangkaan masker di tengah meningkatnya kebutuhan akibat paparan abu vulkanik memunculkan berbagai ide 'kreatif'. Terlebih, harga masker yang melonjak membuat sebagian orang berupaya menghemat penggunaannya, termasuk dengan mencuci masker agar dapat dipakai kembali.
Dokter paru dari RSUP Persahabatan, Prof Dr dr Agus Dwi Susanto, SpP(K), menegaskan, masker bedah dan masker N95 tidak boleh dicuci. Sebab, masker tersebut dibuat untuk sekali pakai dan langsung dibuang.
"Kalau masker single use, itu Anda harus terus pakai 6-8 jam. Harus diganti," kata dr Agus dalam tayangan detikPagi, Senin (7/9/2026).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Masker kain pun sama. Jika sudah digunakan selama 6-8 jam, harus diganti, sebab masker sudah lembap dan basah.
"Kemudian banyak juga kotorannya nempel. Tentu kalau dengan dicuci kemudian dikeringkan lagi, bisa dipakai lagi."
Berbeda dengan masker bedah atau masker N95, masker kain memang boleh dicuci. Namun, proses pencucian akan membuat pori-pori masker menjadi terbuka lebar. Hal ini berarti filtrasinya akan jauh lebih buruk setelah dicuci.
"Yang tidak dicuci saja, dia filtrasinya kecil. Begitu dicuci akan lebih kecil lagi," katanya.
Dengan demikian, penggunaan masker kain tidak disarankan.
"Saya sih nggak menyarankan karena kemampuan filtrasinya jelek, ya. Tapi kalau mau Anda pakai kemudian dicuci, tentu dicuci itu kan tadi prinsipnya," kata dr Agus.
Pemilihan masker yang paling ideal adalah respirator yang memiliki kemampuan filtrasi terhadap partikel sebesar 95 persen. Contohnya seperti N95, KN95, FFP2, dan lain sebagainya.
"Atau Anda mau pakai masker bedah, boleh. Itu lebih baik daripada tidak sama sekali," ungkapnya.










































