Selasa, 23 Feb 2021 04:55 WIB

Sakit Setelah Vaksin COVID-19, Efek Samping atau Kebetulan? Begini Menilainya

Sarah Oktaviani Alam, detikTV - detikHealth
Jakarta -

Sampai saat ini, Kementerian Kesehatan menyebut belum ada laporan terkait Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI) yang serius dari vaksinasi COVID-19. KIPI merupakan semua kejadian medik yang terjadi setelah imunisasi, dan diduga berhubungan dengan imunisasi.

Menurut Ketua Komnas KIPI, Prof Dr dr Hinky Hindra Irawan Satari, SpA(K), data yang baru masuk dari 22 provinsi di Indonesia umumnya hanya melaporkan mengalami gejala ringan. Misalnya seperti mual, kesulitan bernapas, kesemutan, lemas, atau berdebar dan hilang setelah diberikan pengobatan.

Bagaimana memastikan apakah efek samping yang dialami setelah vaksinasi atau KIPI berkaitan dengan vaksin?

Menurut Prof Hingky, ada beberapa hal yang menjadi pertimbangan apakah KIPI yang terjadi berkaitan dengan vaksin. Salah satunya adalah onset atau waktu munculnya keluhan.

Jika gejala muncul setelah vaksinasi, bisa dihitung mundur 7 hari dari munculnya gejala, apakah tepat dengan waktu vaksinasi atau tidak.

Prof Hingky menegaskan setelah vaksinasi pun kekebalan tidak terbentuk dengan cepat. Butuh waktu 2 sampai 4 minggu sampai kekebalan terbentuk dengan optimal.

"Setelah vaksin pertama, dia belum ada kekebalan dalam 2 minggu itu. Kalaupun ada, kekebalan yang terbentuk itu sangat rendah, jadi rawan juga dalam masa antara vaksinasi pertama dan vaksin kedua," jelas Prof Hingky dalam konferensi pers yang disiarkan Kementerian Kesehatan pada Senin (22/2/2021).

"Setelah vaksin kedua juga nggak tiba-tiba naik kekebalannya. Dia paling cepat 2 minggu setelah vaksin pertama dan kedua, baru ada kekebalan yang optimal setelah 4 minggu," lanjutnya.

Prof Hingky juga menegaskan, pasca mendapat vaksin pertama, kedua , maupun setelahnya juga seseorang masih sangat rentan terpapar COVID-19. Bukan berarti setelah mendapat suntikan vaksin, bisa langsung kebal dari virus Corona.

"Jadi memang antara vaksin pertama, kedua, dan setelahnya pun masih rawan itu terkena. Karena proses pembentukan antibodi itu nggak instan, nggak abis suntik besoknya langsung kebal dan tergantung respon seseorang," pungkasnya

(sao/up)