Tim peneliti dari Monell Centre, Philadelphia, ini mengungkapkan bahwa temuan mereka tersebut mungkin bisa dimanfaatkan penduduk untuk mengontrol berat badan, mengatur diet dan mengurangi asupan lemak dalam makanan sehari-hari.
Dilansir Daily Mail, Sabtu (25/1/2014), faktanya aroma makanan hampir selalu terdeteksi terlebih dahulu sebelum rasa. Oleh sebab itu, tim mencoba mengidentifikasi kualitas sensorik manusia untuk menentukan lemak dalam makanan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dalam percobaan tersebut, para peneliti mencoba menguji apakah responden bisa mendeteksi dan membedakan jumlah lemak dalam susu. Mereka meminta responden menebak jumlah lemak yang mungkin ditemui dalam produk susu seperti susu skim (0,125 persen), susu semi skim (1,4 persen), susu biasa (2,7 persen).
Sampel susu-susu tersebut disajikan pada responden yang matanya tertutup. Hasilnya, hampir semua responden bisa menggunakan indra penciuman mereka untuk membedakan kandungan lemak dalam berbagai jenis susu.
Nah, lemak sebagai salah satu nutrisi yang paling berkalori, dari hasil temuan tersebut para ahli berasumsi akan sangat menguntungkan bagi manusia jika dapat memanfaatkan indranya untuk mendeteksi sumber lemak dalam makanan. Sebab dengan begitu, diet dan pengontrolan berat badan bisa lebih mudah dilakukan tanpa perlu menghitung kalori dalam makanan terlebih dahulu.
Studi ini telah dipublikasikan dalam jurnal PLoS ONE.











































