Pil Diet, Pangsa Pasar Kecil dan Efek Sampingnya Selalu Dipersoalkan

Pil Diet, Pangsa Pasar Kecil dan Efek Sampingnya Selalu Dipersoalkan

- detikHealth
Senin, 15 Sep 2014 07:12 WIB
Pil Diet, Pangsa Pasar Kecil dan Efek Sampingnya Selalu Dipersoalkan
ilustrasi (Foto: Thinkstock)
Jakarta - Pil diet menjadi salah satu alternatif solusi untuk membantu menurunkan angka obesitas. Hanya saja, efek samping yang beragam akibat pil diet masih menjadi alasan terbatasnya peredaran obat tersebut.

Sejauh ini baru ada dua jenis pil diet yang disetujui Food and Drug Administration (FDA) Amerika Serikat. Kedua jenis pil itu hanya ada di Amerika dan Eropa. Akan tetapi baru-baru ini FDA memberikan izin edar bagi pil diet merek baru. Pil diet ini bernama Contrave dan diproduksi oleh Orexigen Therapeutics Inc, perusahaan obat yang berbasis di California dan diperkirakan akan muncul di pasaran dalam waktu tiga bulan.

Daniel Lang, analis kesehatan dari RS Investments' Value Fund, salah satu pemegang saham di Orexigen, mengatakan bahwa memang pasar untuk pil diet tidak terlalu besar. Selain masalah perizinan yang sulit, badan asuransi pemerintah dan swasta juga menolak untuk memasukkan pil diet dalam daftar obat yang bisa diklaim.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Memang pil diet mempunyai beberapa kerugian, antara lain tidak termasuk dalam daftar obat yang diganti rugi asuransi serta risiko serangan jantung dan efek samping lainnya. Jika itu bisa dihilangkan, maka pasarnya tentu akan membaik," tutur Lang seperti dikutip dari Reuters, Senin (15/9/2014).

Salah satu alasan yang membuat pil diet sulit diberi izin edar adalah kandungan zat antidepresan di dalamnya. Antidepresan dinilai memiliki hubungan dengan meningkatnya risiko serta perilaku yang berujung pada bunuh diri.

Efek samping lainnya dari menggunakan pil diet adalah menumpuknya lemak di usus, sehingga dapat membuat rasa begah, diare hingga gangguan pencernaan. Hal ini terjadi karena pil diet mengandung zat yang dapat melunturkan lemak dalam waktu cepat tanpa perlu berolahraga. Namun lemak tetap berbentuk padat dan lari ke usus.

Pakar nutrisi dari University of Sydney, Leona Victoria Djajadi mengatakan bahwa untuk tak ada cara lain untuk menurunkan berat badan selain olahraga dan diet. Itu pun harus dengan porsi dan menu makan dan latihan yang tepat.

"Olahraga sebaiknya melakukan kardio seperti lari dan berenang serta latihan beban untuk mengencangkan otot dan kulit. Ataupun jika tak ada waktu, bisa dengan naik turun tangga, jalan kaki atau berdiri sambil nonton TV," urainya dalam konsultasi detikHealth beberapa waktu lalu.

(mrs/vit)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads