Ya, studi terbaru mengungkapkan bahwa obesitas alias kegemukan tak cuma muncul akibat dari beberapa faktor metabolik dan genetik saja, tapi juga seberapa mudah makanan atau camilan bisa dilihat dan dijangkau di dalam rumah.
"Efek dari lingkungan rumah dan faktor psikososial belum pernah diteliti secara bersamaan sebelumnya," ujar Charles Emery, profesor psikologi di Ohio State University, yang sekaligus berperan sebagai penulis utama studi tersebut, seperti dikutip dari Times of India, Jumat (22/5/2015).
Baca juga: Meski Sudah Makan, 4 Hal Ini Bisa Bikin Perut Masih Merasa Lapar
Penelitian ini difokuskan terutama untuk menentukan apakah lingkungan rumah, seperti fitur arsitektur, penyimpanan dan ketersediaan makanan, berkaitan dengan risiko obesitas. Sementara fitur arsitektur tidak memiliki hubungan dengan status obesitas, beberapa temuan terkait ketersediaan makanan rupanya memiliki hubungan yang signifikan.
Peserta obesitas dalam studi ini diketahui terus makan lebih banyak makanan (yang umumnya adalah makanan kurang sehat), jika dibandingkan dengan peserta yang non-obesitas.
"Jumlah dan jenis makanan di rumah dua kelompok ini sebagian besar sama, tapi di rumah mereka yang obesitas, lebih banyak ada makanan tak sehat yang berada di luar dapur. Ini tentu membuat keterjangkauan camilan tak sehat tersebut menjadi lebih besar," imbuh Emery.
Penelitian yang telah dipublikasikan dalam International Journal of Obesity ini sendiri dilakukan dengan melibatkan 100 peserta berusia antara 20 hingga 78 tahun. Sekitar 50 orang termasuk kategori non-obesitas, sementara sisanya termasuk kategori obesitas.
Baca juga: Badan Melar Usai Menikah? Ini 6 Cara Mengatasinya
(ajg/up)











































