Pemimpin studi Profesor Nicole Calakos mengatakan timnya menemukan lintasan sirkuit saraf di otak yang terpengaruh langsung oleh konsumsi gula. Dalam lintasan tersebut ada dua jalan utama: Satu jalan membawa sinyal berhenti sementara jalan lainnya membawa sinyal jalan.
Percobaan pada tikus menunjukkan ketika sebuah pilihan untuk mengonsumsi makanan manis dihadapkan, kedua jalan sinyal akan aktif menyala. Namun mereka yang sudah memiliki dorongan makan atau minum manis-manis, sirkuit lebih dominan membawa sinyal jalan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dalam laporan yang dipublikasi di jurnal Neuron, perbedaannya disebut sangat jelas sampai-sampai peneliti dapat memprediksi kira-kira tikus mana yang bisa lepas dari kebiasaan hanya dilihat dari aktivitas sirkuit otaknya saja.
"Dua tipe sel ini mungkin sedang berlomba untuk memengaruhi aksi kita lewat jalan sinyal mana yang sampai duluan. Pada tikus dengan kebiasaan mengonsumsi manis, sinyal 'jalan' cenderung lebih cepat ditembakkan. Sementara tikus yang tak punya kebiasaan sinyal 'berhenti' yang sampai duluan," papar Calakos seperti dikutip dari Huffingtonpost pada Senin (25/1/2016).
Menurut Calakos, perlombaan dua sinyal ini terjadi di seluruh area otak basal ganglia. Ini berarti kemungkinan besar satu kebiasaan buruk lainnya mungkin juga terpengaruh oleh kebiasaan mengonsumsi manis ini.
Oleh karena itu peneliti mengatakan dengan melemahkan sinyal di saraf 'jalan' secara spesifik mungkin bisa jadi solusi. Tapi untuk melakukan itu masih perlu studi dan eksperimen yang lebih jauh lagi.
Baca juga: 5 Dampak Buruk Terlalu Banyak Mengonsumsi Gula Bagi Tubuh (fds/vit)











































