Studi: Mau Panjang Umur? Sehatkan Organ Tubuh dengan Diet Rendah Kalori

Studi: Mau Panjang Umur? Sehatkan Organ Tubuh dengan Diet Rendah Kalori

Ajeng Anastasia Kinanti - detikHealth
Jumat, 08 Jul 2016 09:05 WIB
Studi: Mau Panjang Umur? Sehatkan Organ Tubuh dengan Diet Rendah Kalori
Foto: Thinkstock
Jakarta - Diet rendah kalori biasanya lebih identik dengan program penurunan berat badan. Namun kini peneliti berhasil membuktikan bahwa diet jenis ini juga memiliki manfaat lain, yakni untuk membantu menyehatkan organ tubuh dan membuat Anda panjang umur.

Dalam studinya yang telah dipublikasikan dalam Journal of Proteome Research, peneliti Huiru Tang, Yulan Wang, Yong Liu dan rekan-rekannya menuliskan bahwa pada dasarnya terlalu banyak makan alias overeating dapat menyebabkan masalah kesehatan yang dapat 'mempersingkat' hidup seseorang, seperti obesitas, diabetes dan penyakit jantung.

"Studi kami menunjukkan bahwa membatasi asupan kalori dapat memberikan efek positif sehingga meningkatkan peluang seseorang untuk menjadi panjang umur," imbuh para peneliti, seperti dikutip dari Times of India, Jumat (8/7/2016).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Baca juga: Studi: Asal Dikonsumsi Tak Berlebihan, Mentega Juga Baik untuk Kesehatan

Studi ini dilakukan dengan melibatkan beberapa ekor tikus. Tim pun mencoba mencari tahu alasan metabolik mengapa diet seperti ini dapat memberikan manfaat tersebut. Dalam studi ini, tikus-tikus tersebut dibagi menjadi empat kelompok.

Kelompok pertama diberikan diet rendah lemak; kelompok kedua diet rendah lemak dengan pembatasan kalori; kelompok ketiga diberi tinggi lemak; dan kelompok keempat diberikan diet tinggi lemak dengan pembatasan kalori. Maasing-masing tikus diberikan diet tersebut selama lebih dari satu tahun.

Tim kemudian menggunakan analisis resonansi magnetik nuklir untuk memeriksa efek metabolik pada sampel darah dan urine tikus. Hasilnya, ditemukan bahwa pembatasan kalori memiliki efek yang jauh lebih besar pada hasil metabolisme daripada jumlah lemak dalam diet.

"Tikus dengan diet kalori tinggi mengalami peningkatan stres oksidatif, gangguan metabolisme lipid, dan glikolisi, dibandingkan dengan tikus yang diberikan diet rendah kalori," terang peneliti.

Baca juga: Mau Pangkas Risiko Serangan Jantung? Yuk Rutin Konsumsi Ikan

(ajg/up)

Berita Terkait