ADVERTISEMENT

Jumat, 04 Nov 2016 12:03 WIB

Dengan Makanan Kukus atau Rebus, Risiko Kena Penyakit Jantung Bisa Drop

Ajeng Anastasia Kinanti - detikHealth
Foto: iStock
Jakarta - Pikirkan kembali bagaimana pola makan Anda akhir-akhir ini, apakah Anda lebih sering mengolah makanan dengan cara digoreng atau dikukus? Beda cara olah, beda pula efeknya bagi kesehatan lho.

Seperti disampaikan oleh peneliti dari University of Edinburgh, bahwa pengolahan makanan dengan cara digoreng dapat meningkatkan risiko penyakit jantung.

Ini karena pada dasarnya memasak makanan pada suhu tinggi dapat membuat racun-racun dari produk makanan tersebut menjadi keluar. Proses pengolahan yang dimaksud misalnya menggoreng atau memanggang.

Salah satu efek yang muncul adalah tingginya kadar lemak trans, yang diketahui dapat meningkatkan tingkat kolesterol jahat dalam aliran darah. Pada akhirnya, hal ini berefek pada peningkatan risiko penyakit jantung. Sebaliknya, memasak dengan suhu lebih rendah seperti mengukus atau merebus, mengurangi risiko tersebut.

Baca juga: Hanya Makan Buah dan Sayur Bisa Pangkas Risiko Diabetes, Mitos atau Fakta?

Dalam studi yang dilakukan terhadap beberapa etnis ini ditemukan bahwa pria yang lahir di Pakistan memiliki risiko 62 persen lebih tinggi meninggal akibat serangan jantung, dibandingkan dengan mereka yang lahir di Inggris dan Wales.

Disebutkan bahwa metode memasak tertentu seperti menggoreng membuat kadar lemak trans meningkat, terutama jika minyak digunakan berulang kali. Secara khusus, pengolahan dengan cara menggoreng dan memanggang, yang umum dilakukan di negara-negara Asia Selatan, ditemukan meningkatkan angka risiko penyakit jantung.

 Dengan Makanan Kukus atau Rebus, Risiko Kena Penyakit Jantung Bisa <i>Drop</i>Foto: Thinkstock
Sementara di China, di mana tingkat penyakit jantungnya lebih rendah, dilaporkan memiliki pola memasak yang lebih banyak mengukus dan merebus.

"Kami kira hasil studi ini bisa menjadi bagian dari jawaban misteri mengapa beberapa kelompok etnis tertentu lebih rentan terhadap penyakit jantung. Meskipun penelitian lebih lanjut mungkin akan diperlukan, tapi setidaknya kini kita dapat membuat rekomendasi untuk mengubah pedoman pola makan yang sehat," tutur Prof Raj Bhopal, dikutip dari situs National Center for Biotechnology Information.

Studi ini juga telah diterbitkan dalam jurnal Nutrition.

Baca juga: Mau Turun Berat Badan? Jangan Lupa Tetap Sarapan dan Pilih Menu Tepat (ajg/vit)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT