Kamis, 02 Agu 2018 10:00 WIB

Lupakan Timbangan! Urusan Sehat, Lingkar Perut Lebih Menentukan

AN Uyung Pramudiarja - detikHealth
Sepeda menjadi alat transportasi favorit di Kopenhagen. Jalur sepeda di kota ini sangat steril dari kendaraan bermotor. Foto: AN Uyung Pramudiardja/detikHealth
Kopenhagen - Selama ini, indeks massa tubuh (IMT) paling banyak dipakai sebagai indikator kegemukan. Pakar endokrinologi mengingatkan, khususnya bagi para pria, untuk tidak hanya fokus pada angka di timbangan.

Dalam perhitungan IMT, berat badan memang sangat menentukan. Perbandingannya dengan kuadrat tinggi badan menjadi penentu apakah seseorang tergolong underweight, normal, overweight, atau bahkan obesitas.

Ketua umum PB Perkeni (Perkumpulan Endokrinologi Indonesia), Prof Dr dr Ketut Suastika, SpPD-KEMD menyebut perhitungan IMT sebenarnya lebih cocok diterapkan di Eropa. Untuk Asia, khususnya pada pria, mengukur tingkat kegemukan paling cocok dilakukan dengan mengukur lingkar perut.

"Di Asia, pria lebih banyak mengalami obesitas sentral, yakni di perut saja. Dan itu adalah faktor risiko diabetes," jelasnya kepada detikHealth, ditemui di sela kunjungan delegasi Kementerian Kesehatan RI, di Kopenhagen, Rabu (1/8/2018).

Menurut Prof Suastika, lingkar perut untuk pria idealnya tidak lebih dari 90 cm sedangkan untuk wanita tidak lebih dari 80 cm. Lingkar perut yang terlalu besar umumnya terkait dengan gangguan metabolisme, termasuk di antaranya diabetes melitus atau dikenal sebagai kencing manis.



Tidak cuma di Asia, obesitas secara umum menjadi persoalan bahkan di negara yang terkenal maju dan bahagia seperti Denmark. Nanna Skovgaard dari Kementerian Kesehatan Denmark mengakui, sekitar 50 persen penduduk di negaranya masih bermasalah dengan obesitas.

"Kalau kamu lihat di Kopenhagen memang orangnya langsing-langsing karena banyak berolahraga. Tapi kalau kamu ke utara, kegemukan sebenarnya masih menjadi masalah di sana," jelas Nanna, ditemui usai memberikan presentasi di Kementerian Luar Negeri Denmark.

(up/up)