Jumat, 02 Agu 2019 19:43 WIB

Mengapa Guncangan Gempa Menyisakan Pusing dan Mual?

AN Uyung Pramudiarja - detikHealth
Kepanikan terjadi saat gempa mengguncang Banten dan Jakarta (Foto: Jabbar Ramdhani/detikcom) Kepanikan terjadi saat gempa mengguncang Banten dan Jakarta (Foto: Jabbar Ramdhani/detikcom)
Jakarta - Gempa M 7,4 mengguncang Banten, getaran terasa sangat kuat hingga Jakarta. Beberapa orang yang berada di ketinggian gedung bertingkat merasakan mual dan pusing hingga beberapa saat setelah gempa berakhir.

"Auto pusing," kata Zizu, karyawan swasta yang bekerja di Lantai 9 sebuah gedung bertingkat, Jumat (2/7/2019).

Keluhan pusing dan mual lazim dijumpai saat gempa hingga beberapa waktu setelahnya. Para ilmuwan menyebutnya phantom earthquakes atau jishin-yoi dalam bahasa Jepang.

Fenomena pusing dan mual sehabis gempa dilaporkan antara lain ketika gempa 6,4 skala Richter mengguncang Kunamoto, Jepang, pada April 2016. Hingga beberapa bulan pasca kejadian, sebanyak 200 orang masih melaporkan mual dan gangguan keseimbangan, yang oleh para ahli disebut sebagai 'post-earthquake dizziness syndrome' (PEDS).



Ada beberapa teori yang menjelaskan fenomena ini. Pertama, keluhan mual dan pusing sehabis gempa terjadi dengan mekanisme serupa dengan mabuk perjalanan atau motion sickness. Saat guncangan terjadi, gerakan yang dialami tubuh dan yang teramati secara visual tidak sinkron sehingga muncul berbagai keluhan tidak nyaman.

Teori lain yang menjelaskan fenomena ini adalah fobia terhadap gempa susulan. Bahkan ketika gempa susulan tidak benar-benar terjadi, tubuh mengantisipasinya dengan kepanikan.



Simak Video "Melihat RS Universitas Indonesia, ''Green Hospital'' yang Tahan Gempa"
[Gambas:Video 20detik]
(up/fds)
News Feed