Sabtu, 31 Agu 2019 06:00 WIB

Tanggapan Komunitas Vegan untuk Artikel 'Risiko Diet Vegan'

Nabila Ulfa Jayanti - detikHealth
Kaka Slank, salah seorang pegiat diet vegan (Foto: Nabila Ulfa Jayanti/detikHealth) Kaka Slank, salah seorang pegiat diet vegan (Foto: Nabila Ulfa Jayanti/detikHealth)
Jakarta - Dalam sebuah artikel, dokter gizi klinis dr Diana F Suganda, SpGK mengatakan bahwa tren diet vegan punya sejumlah risiko. Terkait hal itu, Indonesia Vegetarian Society (IVS) menyampaikan sanggahan.

"Ada beberapa statement dari narasumber (dr Diana F Suganda) yang menurut kami, sangat tendensius, tidak berdasar pada fakta ilmiah," tulis Karim Taslim dari IVS, dalam suratnya kepada detikHealth, Sabtu (31/8/2019).



Beberapa poin yang menjadi keberatan komunitas vegan adalah sebagai berikut:

1. Sumber protein
Dalam artikel tersebut, dr Diana menyinggung soal asupan kedelai sebagai sumber protein. Kutipan ini menyiratkan seolah-olah sumber protein dalam diet vegan hanya berasal dari kedelai. Padahal sumber protein nabati, menurut Karim sangat banyak dan variannya sangat beragam seperti gandum, kacang hijau, buncis, dan sebagainya.

Di dalam Pedoman Gizi Seimbang oleh Kemenkes tahun 2014 juga disebutkan bahwa protein hewani dan nabati mempunyai kedudukan setara dan dapat saling mensubstitusi.



2. Sumber Vitamin B12
Pendapat lain yang juga disanggah adalah bahwa vitamin B12 hanya terdapat pada pangan hewani. Menurut Karim, tempe merupakan pangan yang kaya akan vitamin B12. Sari kedelai buatan pabrik juga banyak yang mengandung B12.



3. Risiko malnutrisi dan anemia
Dalam salah satu kutipan, dr Diana menyebut diet vegan berisiko malnutrisi dan anemia defisiensi besi. Menurut Karim, pernyataan tersebut tidak dilandasi jurnal atau penelitian ilmiah dan hanya berdasarkan subjektivitas. Faktanya, banyak kaum vegan yang tidak mengalami risiko tersebut.





Simak Video "Mau Makan Banyak Tapi Tetap Kurus?"
[Gambas:Video 20detik]
(up/up)