Selasa, 16 Mar 2021 04:57 WIB

Dokter Gizi Ingatkan Bahaya Membatasi Asupan di Bawah 800 Kalori Perhari

Vidya Pinandhita - detikHealth
penyebab payudara mengendur Membatasi asupan hingga di bawah 800 kalori perhari bisa berbahaya (Foto: Thinkstock)
Jakarta -

Mereka yang ingin menurunkan berat badan kerap menjajal A-Z metode diet, mulai dari yang ringan hingga ekstrem. Bahkan dalam buku terbitan selebritis yang baru-baru ini viral, disebutkan bahwa konsumsi serat berlebih justru bisa menggagalkan diet.

Dokter spesialis gizi klinik Dr dr Samuel Oetoro, MS, SpGK(K) menyebut, program diet ekstrem membatasi asupan kalori secara besar-besaran, misalnya hingga di bawah 800 kalori dalam sehari.

Menurut dr Samuel, beragam bahaya bisa mengancam jika pembatasan kalori ini dilakukan terus-menerus, apalagi tanpa pengawasan ahli.

"Hati-hati kalau sudah bermain kalori kurang dari 800, komplikasinya massa otot berkurang, belum lagi banyak efek samping. Yang berbahaya apa? Paling sering terjadi pembentukan batu empedu, asam urat meningkat, fungsi liver-nya terganggu. Pasien sering merasa kedinginan, bisa terjadi kerontokan rambut," ujarnya dalam talkshow Perhimpunan Dokter Spesialis Gizi Klinik Indonesia (PDGKI) Jakarta, Minggu (14/3/2021).

Umumnya pada bulan pertama berlangsungnya diet ekstrem, berat badan sukses turun drastis. Akan tetapi, penurunan tersebut tak selalu menjadi pertanda baik. Sebab bukan hanya lemak yang merosot, melainkan pula massa otot terlebih jika diet tidak diseimbangi olahraga pembentukan otot.

"Yang paling berat kalau berlangsung lama diet ekstrim ini, tubuh akan mengambil tenaga akhirnya dari protein tubuh. Massa otot menurun. Otot itu ada dimana-mana, termasuk di jantung. Hati-hati protein otot jantung tertarik, lama-lama otot jantung kekurangan protein, berbahaya sekali," imbuhnya.

Bahkan di bawah pengawasan dokter pun, dr Samuel menyebut, asupan kalori dalam program diet tidak boleh kurang dari 500 sehari untuk pria, dan 400 kalori dalam sehari untuk wanita.

"Diet ekstrem dengan indikasi tertentu boleh, tapi harus di bawah pengawasan dokter yang menguasai ilmu pengawasan pasien-pasien obesitas," pungkasnya.



Simak Video "Dietku Bukan Dietmu"
[Gambas:Video 20detik]
(vyp/up)