Ramainya perbincangan soal produk berbasis susu belakangan ini membuka satu persoalan penting yang sering luput dibahas, yakni cara masyarakat memahami label pangan. Dari sisi kesehatan, istilah pada kemasan memiliki pengaruh besar dalam membentuk persepsi (cara pandang) konsumen tentang kualitas gizi suatu produk. Tidak sedikit orang mengira bahwa minuman dengan label "mengandung susu" otomatis dapat menggantikan susu sebagai sumber gizi utama.
Pengaruh label terhadap persepsi ini didukung oleh kajian ilmiah yang dipublikasikan dalam jurnal Public Health Nutrition oleh Gillian Cowburn dan Lynn Stockley. Kajian tersebut menunjukkan bahwa meskipun banyak konsumen memperhatikan label gizi, pemahaman terhadap arti dan konteks informasi yang tertera masih terbatas. Akibatnya, klaim pada kemasan kerap disalahartikan sebagai gambaran langsung dari nilai gizi produk secara keseluruhan.
Kesalahpahaman inilah yang kemudian paling sering muncul pada klaim tertentu yang terdengar sederhana, tetapi berdampak besar terhadap cara konsumen menilai kualitas suatu produk.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
'Mengandung Susu' Bukan Berarti Sumber Protein
Banyak produk minuman mencantumkan klaim "mengandung susu" di bagian depan kemasan. Dari sisi kesehatan, klaim ini kerap disalahartikan sebagai jaminan bahwa produk tersebut kaya protein dan kalsium seperti susu murni. Padahal secara gizi, istilah "mengandung" hanya menunjukkan adanya unsur susu, tanpa menjelaskan seberapa besar proporsinya dalam produk.
Cowburn dan Stockley dalam Public Health Nutrition mencatat bahwa konsumen sering mengaitkan klaim pada kemasan dengan kualitas gizi yang lebih tinggi, meskipun kandungan zat gizi utama seperti protein sebenarnya rendah. Temuan ini diperkuat oleh penelitian Didem H. Besler dalam Journal of Nutrition Education and Behavior, yang menunjukkan bahwa konsumen kerap tidak menyadari bahwa bahan yang disebutkan di label bisa saja hanya digunakan dalam jumlah kecil dan bukan menjadi sumber gizi utama produk.
Untuk memahami seberapa besar kontribusi suatu bahan terhadap gizi produk, konsumen tidak cukup hanya membaca klaim, tetapi perlu melihat susunan bahan yang digunakan.
Urutan Bahan Menentukan Nilai Gizi
Salah satu aspek literasi pangan (kemampuan memahami informasi gizi dan label makanan) yang penting namun sering diabaikan adalah daftar komposisi bahan. Dalam aturan pelabelan pangan di Indonesia, bahan wajib ditulis berdasarkan urutan jumlah terbanyak hingga paling sedikit, sesuai ketentuan dari BPOM. Dari sisi kesehatan, urutan ini memberikan gambaran nyata tentang zat apa yang paling banyak dikonsumsi tubuh dari suatu produk.
Kajian Didem van der Merwe dkk. dalam Public Health Nutrition menunjukkan bahwa banyak konsumen membaca daftar komposisi, tetapi belum memahami bahwa urutan bahan mencerminkan kontribusi terbesar terhadap kandungan gizi. Akibatnya, jika gula atau air tercantum di urutan awal sementara susu berada di bagian akhir, secara gizi kontribusi utama minuman tersebut berasal dari gula atau cairan, bukan dari susu.
Dominasi bahan tertentu dalam komposisi inilah yang kemudian berpengaruh langsung terhadap respons tubuh setelah produk dikonsumsi.
Dampak Konsumsi Rutin Minuman Bergula pada Anak
Secara gizi, tubuh merespons zat yang dikonsumsi dalam jumlah paling besar. Pada banyak minuman rasa susu, sumber energi utama justru berasal dari gula tambahan, bukan dari protein atau lemak susu. Hal ini sejalan dengan temuan Frank Hu dkk. dalam The New England Journal of Medicine, yang menjelaskan bahwa gula cair memberikan kalori cepat namun minim zat gizi penting yang dibutuhkan tubuh.
Dari sisi kesehatan anak, konsumsi rutin minuman bergula juga dikaitkan dengan berbagai risiko. Malik dkk. dalam The American Journal of Clinical Nutrition menunjukkan bahwa minuman bergula memiliki efek kenyang yang rendah dan berkontribusi pada peningkatan asupan kalori harian. Sementara itu, Ludwig dkk. dalam The Lancet melaporkan kaitan antara konsumsi minuman manis dengan peningkatan risiko kelebihan berat badan dan obesitas pada anak. Asupan gula bebas yang tinggi juga berhubungan dengan meningkatnya gigi berlubang (karies), sebagaimana ditunjukkan oleh kajian Moynihan dan Kelly dalam Journal of Dental Research.
Meski demikian, dari sisi kesehatan masyarakat, minuman bergula tidak harus dihindari sepenuhnya. Risiko terutama muncul ketika minuman tersebut dikonsumsi rutin dan menggantikan pangan bergizi.
Agar konsumen tidak salah menempatkan peran minuman ini dalam pola makan sehari-hari, kemampuan membaca label menjadi langkah penting berikutnya.
Cara Membaca Label Minuman Berbasis Susu agar Tak Keliru
Dari sisi kesehatan, membaca label tidak cukup hanya melihat klaim "mengandung susu" di bagian depan kemasan, tetapi perlu memperhatikan informasi nilai gizi dan daftar bahan secara menyeluruh. Label pangan memang dirancang untuk membantu konsumen membuat pilihan yang lebih sehat, namun dalam praktiknya, angka dan istilah gizi yang digunakan sering kali sulit dipahami oleh masyarakat umum. Karena itu, diperlukan cara membaca label yang tepat agar konsumen tidak keliru menilai kualitas gizi suatu minuman.
Berikut panduan sederhana membaca label minuman yang perlu diperhatikan konsumen:
1. Mulai dari nama produk, bukan klaim depan kemasan
Nama produk menentukan kategori pangan, apakah itu susu, minuman susu, atau minuman rasa susu. Prinsip ini merujuk pada aturan pelabelan pangan olahan yang ditetapkan oleh BPOM, di mana nama pangan harus mencerminkan karakter utama produk, bukan sekadar bahan yang terkandung di dalamnya.
2. Perhatikan takaran saji (serving size)
Semua angka pada tabel gizi dihitung per takaran saji, bukan per kemasan. Panduan memahami label dari Food and Drug Administration (FDA) menekankan bahwa banyak konsumen keliru menilai kandungan gizi karena mengabaikan ukuran saji, padahal satu kemasan bisa berisi lebih dari satu sajian.
3. Baca daftar komposisi, karena urutan menentukan jumlah
Daftar bahan ditulis dari yang paling banyak hingga paling sedikit. Aturan ini ditegaskan dalam regulasi BPOM dan juga dijelaskan dalam panduan internasional FDA. Dari sisi kesehatan, bahan yang berada di urutan pertama adalah zat yang paling besar kontribusinya terhadap asupan tubuh.
4. Cek posisi gula dalam komposisi bahan
Jika gula, sirup glukosa, atau pemanis lain berada di urutan awal, berarti produk tersebut secara gizi lebih berfungsi sebagai sumber kalori cepat. Panduan edukasi gizi dari Harvard T.H. Chan School of Public Health menjelaskan bahwa gula tambahan memberikan energi tanpa zat gizi penting dan sebaiknya dibatasi, terutama pada minuman.
5. Lihat kandungan protein per sajian
Protein menjadi indikator penting kualitas gizi, khususnya pada produk berbasis susu. FDA dan Harvard sama-sama menekankan bahwa produk yang dipersepsikan sebagai "bergizi" seharusnya memberikan kontribusi protein yang nyata, bukan hanya rasa atau kalori.
6. Bedakan gula alami dan gula tambahan
Gula alami seperti laktosa berasal dari susu, sedangkan gula tambahan ditambahkan saat proses produksi. Dalam panduan membaca label dari FDA, konsumen dianjurkan lebih waspada terhadap gula tambahan, karena berhubungan dengan peningkatan asupan kalori tanpa manfaat gizi utama.
7. Jangan hanya percaya klaim seperti "mengandung", "diperkaya", atau "bernutrisi"
Kajian literasi gizi yang dirujuk oleh Harvard dan dipublikasikan dalam jurnal Public Health Nutrition menunjukkan bahwa klaim depan kemasan sering membentuk persepsi sehat yang tidak selalu sejalan dengan komposisi gizi sebenarnya. Karena itu, klaim harus selalu diverifikasi lewat tabel gizi dan daftar bahan.
Pemahaman ini juga membantu konsumen menempatkan minuman rasa susu secara lebih proporsional dalam pola konsumsi harian.
Kapan Minuman Rasa Susu Masih Bisa Dikonsumsi?
Dari sisi kesehatan masyarakat, minuman rasa susu tidak perlu diposisikan sebagai produk yang sepenuhnya harus dihindari. Kajian Malik dkk. dalam The American Journal of Clinical Nutrition menegaskan bahwa minuman bergula masih dapat dikonsumsi secukupnya, selama tidak menjadi sumber utama energi dan gizi harian. Namun, batasannya perlu jelas. World Health Organization (WHO) merekomendasikan asupan gula bebas kurang dari 10 persen total energi harian, dan idealnya ditekan hingga di bawah 5 persen untuk manfaat kesehatan tambahan. Pada anak, American Heart Association menganjurkan asupan gula tambahan tidak lebih dari 25 gram per hari, serta membatasi minuman manis hanya untuk konsumsi sesekali, bukan harian.
Sejalan dengan itu, rekomendasi hidrasi dari European Food Safety Authority (EFSA) serta ulasan Popkin dkk. dalam Nutrition Reviews menegaskan bahwa air putih tetap menjadi pilihan utama untuk memenuhi kebutuhan cairan harian. Untuk pemenuhan protein dan kalsium terutama pada anak, susu murni atau sumber protein lain lebih dianjurkan dibandingkan minuman rasa susu. Dengan memahami batasan ini, konsumen dapat menempatkan minuman rasa susu secara lebih tepat dalam pola makan sehari-hari, tanpa mengorbankan kualitas gizi.
Literasi Pangan untuk Konsumen yang Lebih Kritis
Polemik seputar produk berbasis susu seharusnya menjadi momentum untuk meningkatkan literasi pangan. Dari sisi kesehatan, konsumen yang mampu memahami label, komposisi, dan klaim gizi akan lebih siap membuat pilihan pangan yang sesuai dengan kebutuhan tubuhnya.
Kajian dalam Public Health Nutrition menunjukkan bahwa keterbatasan pemahaman label membuat konsumen rentan menyamakan citra pemasaran dengan kualitas gizi yang sebenarnya. Dengan literasi pangan yang baik, konsumen dapat menilai produk berdasarkan kontribusi gizinya secara nyata, bukan sekadar dari kesan "sehat" yang dibangun pada kemasan.
Pada akhirnya, perdebatan soal minuman berbasis susu tidak perlu berhenti pada istilah atau klaim di kemasan. Dari sisi kesehatan, yang lebih penting adalah kemampuan memahami apa yang benar-benar dikonsumsi tubuh, sehingga pilihan pangan dibuat secara sadar gizi bukan karena labelnya terdengar sehat, tetapi karena kandungan gizinya memang sesuai kebutuhan.
Simak Video "Video Dokter Kepo Dong: Susu Mentah Lebih Baik untuk Anak?"
[Gambas:Video 20detik]
(fti/up)











































