Tren Olahraga Sepulang Kerja, Dilema Jaga Kewarasan Fisik dan Mental Anak Kantoran

Kolom Kebugaran

Tren Olahraga Sepulang Kerja, Dilema Jaga Kewarasan Fisik dan Mental Anak Kantoran

detikHealth
Rabu, 31 Des 2025 09:01 WIB
Devandra Abi Prasetyo
Ditulis oleh:
Devandra Abi Prasetyo
Lulusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia yang juga bermain sepakbola. Banyak menulis artikel tentang olahraga dan kebugaran dari sudut pandang gaya hidup sehat.
Tren Olahraga Sepulang Kerja, Dilema Jaga Kewarasan Fisik dan Mental Anak Kantoran
Dilema olahraga sepulang kerja. Foto: Getty Images/Bruby
Jakarta -

Buat sebagian orang, nggak semua obat capek setelah seharian bekerja adalah istirahat. Alih-alih pulang dan rebahan di kasur, banyak dari pekerja kantoran yang memilih untuk olahraga atau mereka menyebutnya 'life after office'.

Olahraganya macam-macam, ada yang ramai-ramai patungan untuk fun football, mampir dulu ke gym yang sebelumnya daftar usai patah hati itu, atau tinggal nyalain Strava dan mulai lari-lari kalcer walau pace keong.

Semakin ke sini, banyak orang yang sadar akan menjaga kesehatan tubuh. Tindakan preventif, walaupun simpel seperti olahraga, dianggap mampu untuk mengamankan hari tua yang sehat dan bahagia.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

ADVERTISEMENT

Olahraga dan Kesehatan Mental

Banyak yang meyakini bahwa aktivitas fisik dapat membantu seseorang untuk tetap sehat secara mental, apalagi yang sumber stresnya dari tekanan pekerjaan: 'kalau resign takut miskin, kalo ditahan terus takut gila'.

Dikutip dari laman Standford Edu, anggapan di atas adalah benar, bahkan ditunjang oleh penelitian. Dalam sebuah studi yang terbit tahun 2016 bertajuk 'Acute aerobic exercise helps overcome emotion regulation deficits', para peneliti meneliti efek olahraga terhadap kemampuan seseorang dalam mengatur emosi.

Studi ini menunjukkan bahwa olahraga teratur dapat membantu meningkatkan regulasi emosi. Para penulis mencatat bahwa olahraga aerobik terbukti meningkatkan perhatian dan inhibitory control (kontrol inhibisi), dan attentional control yang terkait dengan regulasi emosi yang lebih kuat.

Olahraga juga memicu berbagai proses di otak yang dapat membantu memperbaiki suasana hati dan mengurangi emosi negatif. Selama berolahraga, tubuh melepaskan zat kimia yang disebut endorfin.

Ketika seseorang merasa sakit atau stres, tubuh akan mengirimkan sinyal ke otak. Endorfin dilepaskan untuk memblokir sinyal tersebut, meredakan rasa sakit dan menciptakan perasaan bahagia dan sejahtera secara umum.

Selain itu, ada zat yang namanya seretonin. Ini adalah zat kimia otak 'bahagia' lainnya yang dihasilkan dari olahraga yang dapat memperbaiki suasana hati.

Olahraga juga memicu pelepasan dopamin, yang berhubungan dengan kesenangan dan motivasi. Seiring waktu, olahraga teratur mendorong otak untuk memproduksi lebih banyak dopamin dan menciptakan lebih banyak reseptor dopamin, membuat seseorang merasa semakin baik setelah setiap latihan.

Durasi Olahraga untuk Menjaga Kebugaran

Dikutip dari laman Kemenkes RI, setiap orang setidaknya membutuhkan 150 menit olahraga ringan dalam seminggu. Ini sudah cukup untuk menjaga tubuh tetap sehat dan mencegah penyakit.

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), 150 menit ini jika dibagi dalam porsi harian hanya butuh waktu sekitar 21 menit. Sebuah angka yang masuk akal, meski bagi orang-orang yang sibuk atau sok sibuk di kantornya.

Manfaat olahraga rutin juga sangat beragam. Bisa menurunkan berat badan, menjaga kesehatan jantung, memperbaiki kualitas tidur, dan mengurangi risiko penyakit seperti diabetes, hipertensi, hingga stroke.

Lalu, bagaimana untuk orang-orang yang hanya bisa olahraga saat memiliki waktu luang atau di akhir pekan? Tenang, selalu ada cara selama ada niatan untuk hidup aktif, detikers.

Dalam sebuah perbincangan dengan detikcom, spesialis olahraga dari EMC Healthcare, dr Anita Suryani, SpKO mengatakan untuk orang-orang yang hanya memiliki waktu luang di akhir pekan, mungkin gym adalah pilihan terbaik untuk menjaga kebugaran.

"Gym itu cuman perlu 3 hari sekali alias 2 kali seminggu. 15 menit aja cukup. Fleksibilitas bisa tarik-tarik di kantor, biar dia nggak kaku ototnya minimal 10 detik tiap 2 jam sekali. Bisa, jadi alasan apa buat budak korporat?" kata dokter yang mendampingi timnas dayung RI di SEA Games Thailand 2025 tersebut.

Olahraga dan Serangan Jantung

Tidak bisa dipungkiri bahwa masih ada perdebatan yakni olahraga di malam hari lebih berisiko terhadap kesehatan jantung. Alih-alih sehat, yang ada bisa kolaps saat olahraga.

Menurut dr Anita risiko, serangan jantung saat olahraga memang ada, dan itu sama saja baik di pagi, siang, atau sore hari. Namun, yang membedakan adalah seberapa paham orang tersebut dengan kesehatan jantungnya, dan seberapa baik dia mengenal kondisi tubuhnya saat itu.

"Kalau dia cukup tidur, pulang ngantor masih seger ya nggak papa. Kalau dia udah kurang tidur, udah capek di kantor, ditambahin olahraga, ya iya risikonya (serangan jantung). Nggak usah malem-malem, siang sore juga sama aja," tegasnya.

Senada, spesialis jantung dan pembuluh darah dr Hasjim H, SpJP menegaskan olahraga berat secara umum sebenarnya tidak memiliki kaitan secara langsung dengan masalah jantung.

"Sebenarnya kalau kita bicara bahwa apakah olahraga berat erat kaitannya dengan sakit jantung atau serangan jantung, sebenarnya tidak," ujar dr Hasjim ketika ditemui di acara Heart to Heart Gathering, di Siloam Hospitals Lippo Village, Tangerang, Banten beberapa waktu lalu.

Kejadian orang yang mengalami serangan jantung atau meninggal setelah berolahraga biasanya berkaitan dengan masalah gangguan jantung yang tidak diketahui, seperti adanya gangguan irama jantung atau gangguan otot kardiomiopati.

Olahraga Juga Butuh 'Modal'

Menurut dr Anita, baik atlet profesional ataupun mereka yang rekreasional, olahraga juga memiliki aturan main yang harus ditaati. Tentunya, ini untuk keselamatan diri masing-masing.

"Jadi tidurnya mesti cukup, recovery-nya, makannya, minumnya jangan sampai kurang untuk memastikan keamanan dia nggak kena serangan jantung dan keamanan yang lain juga urusan cedera otot bisa dihindari," kata dr Anita.

"Jadi makin seneng, olahraganya nggak overtraining, bisa (nyerang) fisik dan psikis. Kalau nggak overtraining, dia juga berasanya makin seger menghadapi aktivitas sehari-hari, bawaannya happy," katanya.

Selain itu, Medical Check Up (MCU) menurut dr Anita juga penting dilakukan untuk mengetahui kondisi kesehatan tubuh menyeluruh, sehingga bisa memilih olahraga yang aman atau yang berisiko buruk bagi kesehatan.

Halaman 2 dari 4


Simak Video "Video: Mengenal Padel, Olahraga yang Kini Lagi Digandrungi Kaum Urban"
[Gambas:Video 20detik]
(dpy/up)
Tren Kebugaran 2026
13 Konten
Tren gaya hidup sehat diwarnai dengan kemunculan berbagai variasi olahraga kekinian. Terbaru, padel yang kemudian disusul dengan pickle ball. Seperti apa prediksi tren ke depannya? Simak juga saran pakar biar dapat sehatnya, tak cuma dapat gengsinya.

Berita Terkait