Diet 'Switch-On' Ramai di Korea, Diklaim Bisa Pangkas Lemak Hitungan Minggu

Diet 'Switch-On' Ramai di Korea, Diklaim Bisa Pangkas Lemak Hitungan Minggu

Sarah Oktaviani Alam - detikHealth
Jumat, 02 Jan 2026 10:01 WIB
Diet Switch-On Ramai di Korea, Diklaim Bisa Pangkas Lemak Hitungan Minggu
Foto ilustrasi: Getty Images/iStockphoto/AJ_Watt
Jakarta -

Diet 'Switch-On' dari Korea Selatan belakangan viral di media sosial. Pola makan ini mampu membakar lemak dengan cepat tanpa mengorbankan massa otot, bahkan hanya dalam waktu empat minggu.

Diet tersebut dikembangkan oleh spesialis obesitas Korea Selatan, Dr Park Yong-woo.

Konsep diet 'Switch-On' ini bertujuan untuk 'mengaktifkan' metabolisme tubuh melalui kombinasi minuman protein, puasa terkontrol, serta penghindaran makanan cepat saji. Meski tergolong ketat, banyak pelaku diet ini mengaku bisa menurunkan berat badan sekitar 4-4,5 kg tanpa merasa lemas, sehingga memicu rasa penasaran banyak orang.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Bagaimana Cara Kerjanya?

Inti dari diet 'Switch-On' ini adalah mengatur ulang sistem pencernaan, menekan nafsu makan, dan melatih tubuh membakar lemak alih-alih otot. Selama diet, pelaku diminta menghentikan konsumsi gula, alkohol, kafein, makanan olahan, dan tepung.

ADVERTISEMENT

Sebagai gantinya, asupan difokuskan pada makanan tinggi protein seperti ayam, ikan, telur, tahu, kacang-kacangan, serta sayuran berserat tinggi. Asupan cairan juga menjadi perhatian utama, dengan anjuran minum setidaknya dua liter per hari, ditambah probiotik, tidur lebih dari enam jam, dan olahraga ringan.

Intermittent fasting menjadi bagian dari diet ini, mulai dari puasa malam 10-14 jam hingga puasa 24 jam pada fase lanjutan. Olahraga intensitas tinggi disarankan hingga empat kali per minggu, serta makan malam diselesaikan minimal empat jam sebelum tidur agar tubuh memiliki waktu untuk pemulihan.

Dr Park merancang diet ini untuk orang-orang sibuk yang lelah dengan pola diet yo-yo. Minuman protein, baik whey maupun nabati, digunakan untuk menahan rasa lapar tanpa perlu menghitung kalori.

Populasritas diet ini pun melejit di Instagram dan TikTok berkat unggahan foto sebelum dan sesudah yang menunjukkan perubahan signifikan.

Tahapan Diet per Minggu

1. Minggu Pertama

Tahap ini difokuskan pada pembersihan usus. Tiga hari pertama diisi dengan empat minuman protein per hari, jalan kaki satu jam, serta konsumsi probiotik.

Mulai hari keempat, makan siang rendah karbohidrat dan tinggi protein diperbolehkan, seperti ayam rebus atau ikan bakar dengan sayuran hijau. Fase ini diklaim mampu mengurangi kembung dengan cepat.

2. Minggu Kedua

Di saat ini, mulai memperkenalkan puasa. Jumlah shake dikurangi menjadi dua atau tiga kali sehari, makan siang tetap tinggi protein, dan makan malam bebas karbohidrat.

Tahap ini satu kali puasa 24 jam mulai diterapkan. Sementara kopi hitam dan karbohidrat terbatas boleh dikonsumsi kembali.

3. Minggu Ketiga dan Keempat

Ini merupakan fase penuh. Puasa 24 jam dilakukan 2-3 kali per minggu.

Makan siang tetap kaya protein, sementara makan malam dibuat lebih ringan. Setelah olahraga, karbohidrat alami seperti ubi jalar, labu, tomat, atau pisang diperbolehkan dalam porsi kecil.

Testimoni yang Pernah Mencoba Diet 'Switch-On'

Dikutip dari Times of India, sejumlah pelaku diet membagikan kisah sukses mereka di media sosial. Ada yang mengaku turun 4 kg dalam enam hari tanpa kehilangan massa otot, hanya pembengkakan yang berkurang dan energi lebih stabil.

Pengguna lain melaporkan penurunan lemak hingga 4,5 pon atau sekitar 2 kg pada minggu keempat, dengan rasa kenyang terbantu oleh minuman protein.

Risiko yang Perlu Diperhatikan

Meski terdengar menjanjikan, diet ini bukan tanpa risiko. Pengurangan kafein dan karbohidrat dapat memicu sakit kepala dan mudah marah di awal.

Konsumsi shake berulang juga membuat sebagian orang cepat bosan. Puasa panjang tidak dianjurkan bagi mereka dengan riwayat penyakit jantung atau gula darah rendah.

Para ahli juga mengingatkan bahwa pembatasan ekstrem berisiko memperlambat metabolisme jangka panjang atau menyebabkan kekurangan nutrisi jika tidak dilakukan dengan seimbang. Hingga kini, belum ada uji klinis berskala besar yang secara khusus mendukung diet 'Switch-On'.

Apakah Diet 'Switch-On' Layak untuk Dicoba?

Bagi orang yang sehat dan termotivasi, diet 'Switch-On' bisa membangun mempercepat penurunan lemak sekaligus membangun disiplin makan.

Namun, disarankan untuk memulai secara bertahap, memantau respons tubuh, dan berkonsultasi dengan dokter terlebih dahulu. Penurunan cepat memang menggoda, tetapi perubahan gaya hidup jangka panjang tetap menjadi kunci utama kesehatan.

Halaman 2 dari 3
(sao/naf)

Berita Terkait