Kolom Gizi

Puasa Kok Berat Badan Malah Naik, Apa yang Salah?

Mhd. Aldrian, S.Gz - detikHealth
Kamis, 05 Mar 2026 07:03 WIB
Berat badan malah naik saat puasa? Foto: Getty Images/Liudmila Chernetska
Jakarta -

Ramadan biasanya datang bersama harapan baru dan sering dianggap sebagai momen yang pas untuk menurunkan berat badan. Logikanya sederhana. Tidak makan dan minum lebih dari setengah hari, frekuensi makan berkurang, camilan siang hari otomatis hilang. Banyak yang masuk bulan puasa dengan harapan timbangan akan ikut "berpuasa".

Beberapa hari pertama memang terasa menjanjikan. Perut terasa lebih ringan, angka di timbangan sempat turun. Namun memasuki pertengahan Ramadan, ceritanya berubah. Berat badan kembali ke titik awal, bahkan ada yang bertambah. Situasi ini bukan cerita satu dua orang. Hampir setiap tahun keluhan yang sama muncul saat mendekati Lebaran.

Padahal secara teori, waktu makan lebih pendek seharusnya membantu mengurangi asupan. Lalu kenapa di bulan yang identik dengan menahan diri ini, justru ancaman obesitas bisa mengintai?

Ketika Jam Makan Berubah, Tubuh Ikut Menyesuaikan Diri

Ramadan membuat pola makan berubah total. Dari ritme makan yang tersebar sepanjang hari menjadi dua titik utama yaitu sahur dan berbuka. Bagi tubuh, perubahan ini bukan sekadar soal jam makan. Ia menyentuh sistem hormon, metabolisme, dan cara tubuh mengelola energi.

Saat tidak ada asupan selama berjam-jam, tubuh beralih menggunakan cadangan energi yang tersimpan. Kadar gula darah turun perlahan, hormon glukagon bekerja, dan lemak mulai dipecah untuk dijadikan bahan bakar. Pada fase ini, banyak orang memang mengalami sedikit penurunan berat badan.

Namun cerita tidak berhenti di sana. Studi ilmiah yang dipublikasikan di The New England Journal of Medicine tahun 2019 menjelaskan bahwa pola intermittent fasting dapat membantu penurunan berat badan, tetapi hasilnya sangat bergantung pada keseimbangan energi harian. Tubuh tetap tunduk pada prinsip dasar: jika energi yang masuk lebih besar daripada yang digunakan, kelebihannya akan disimpan.

Penelitian lain yang diterbitkan di JAMA Internal Medicine tahun 2020 juga menemukan bahwa pembatasan waktu makan tidak otomatis menghasilkan penurunan berat badan bermakna bila total asupan kalori tidak berubah secara signifikan. Durasi puasa saja tidak cukup untuk menentukan perubahan berat badan. Faktor yang lebih berperan adalah jumlah dan kualitas makanan saat sahur dan berbuka.

Di bulan Ramadan, tubuh sebenarnya sedang belajar beradaptasi. Ia menjadi lebih efisien dalam menggunakan energi. Namun ketika saat berbuka justru terjadi "banjir kalori", efisiensi itu berubah fungsi. Energi yang tidak terpakai akan diam-diam disimpan sebagai cadangan. Secara biologis, tubuh bekerja seperti gudang logistik. Ketika kiriman energi datang lebih banyak daripada yang dipakai, sisanya akan disimpan rapi dalam bentuk lemak.





Simak Video "Video: Cara Hitung Berat Badan Ideal Kucing"


(mal/up)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork