Bulan Maret sering menjadi momentum untuk kembali mengingat pentingnya menjaga kesehatan ginjal. Di berbagai negara, periode ini dikenal sebagai Renal Cancer Awareness Month, atau bulan kesadaran kanker ginjal, kampanye global yang bertujuan meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap kanker ginjal. Selain itu, perhatian terhadap kesehatan ginjal biasanya semakin menguat karena pada Kamis kedua bulan Maret juga ada peringatan World Kidney Day atau Hari Ginjal Sedunia yang tahun 2026 ini jatuh pada tangga 12 Maret.
Tahun ini, isu kanker ginjal terasa semakin dekat bagi banyak orang di Indonesia setelah kabar meninggalnya musisi sekaligus pejuang kanker ginjal, Vidi Aldiano. Perjalanan panjangnya melawan penyakit ini sempat membuka percakapan publik tentang kanker ginjal, penyakit yang sebenarnya tidak terlalu sering dibicarakan, tetapi jumlah kasusnya terus meningkat di berbagai negara.
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa penyakit kanker ginjal sering berkaitan dengan kondisi metabolik yang lebih dulu muncul, seperti obesitas, hipertensi, dan diabetes. Persentase penyakit-penyakit ini kini semakin tinggi ditemukan.
Situasi tersebut menjadi relevan untuk dibahas di bulan Ramadan. Perubahan pola makan sering membuat sebagian orang justru makan lebih banyak saat berbuka. Menu manis, gorengan, makanan tinggi lemak, hingga makanan ultra-proses kerap hadir hampir setiap hari. Jika kebiasaan tidak sehat ini berlangsung terus-menerus, kondisi metabolik yang sudah ada bisa semakin memburuk dan dalam jangka panjang ikut meningkatkan risiko kanker ginjal.
Penyakit Metabolik yang Berkaitan dengan Risiko Kanker Ginjal
Sebagian besar kasus kanker ginjal merupakan Renal Cell Cancer (RCC), jenis kanker yang berkembang dari sel-sel di tubulus ginjal. Penelitian selama beberapa dekade terakhir menunjukkan bahwa penyakit metabolik memiliki hubungan yang cukup kuat dengan meningkatnya risiko kanker ini.
1. Obesitas
Obesitas termasuk faktor risiko yang paling konsisten ditemukan pada kanker ginjal. International Journal of Molecular Sciences tahun 2022 menunjukkan bahwa sekitar 25 hingga 30 persen kasus kanker ginjal berkaitan dengan kelebihan berat badan atau obesitas. Lemak tubuh yang berlebihan memicu berbagai perubahan biologis yang bisa menciptakan lingkungan yang mendukung pertumbuhan sel kanker.
Jaringan lemak yang menumpuk dapat menyebabkan hipoksia, yaitu kondisi ketika jaringan tubuh mengalami kekurangan oksigen. Kondisi ini membuat sel-sel tubuh beradaptasi dengan cara meningkatkan aktivitas jalur molekuler tertentu, seperti hypoxia-inducible factor (HIF), yang diketahui berperan dalam pertumbuhan tumor.
Selain itu, obesitas juga memicu peradangan kronis tingkat rendah di dalam tubuh. Sel-sel lemak menghasilkan berbagai zat peradangan seperti sitokin dan adipokin yang dapat memengaruhi lingkungan sel di sekitar ginjal.
Perubahan metabolisme pada obesitas juga berkaitan dengan resistensi insulin. Ketika tubuh menjadi kurang responsif terhadap insulin, kadar insulin dalam darah meningkat. Kondisi ini merangsang produksi insulin-like growth factor (IGF-1) yang dapat mempercepat pembelahan sel, termasuk sel yang mengalami mutasi.
Penelitian juga menunjukkan bahwa sel stroma pada jaringan adiposa dapat memengaruhi perkembangan tumor. Sel-sel ini mampu melepaskan faktor pertumbuhan dan molekul sinyal yang membantu sel kanker bertahan hidup, berkembang, bahkan mempermudah proses metastasis atau penyebaran tumor ke jaringan lain.
Karena itulah obesitas tidak hanya dianggap sebagai masalah berat badan, tetapi juga sebagai kondisi biologis yang dapat menciptakan lingkungan yang lebih kondusif bagi perkembangan kanker.
2. Hipertensi
Tekanan darah tinggi juga memiliki hubungan yang cukup kuat dengan kanker ginjal. Penelitian dalam jurnal Hypertension tahun 2020 menunjukkan bahwa penderita hipertensi memiliki risiko kanker ginjal sekitar 60 hingga 70 persen lebih tinggi dibandingkan mereka yang tekanan darahnya normal.
Ginjal merupakan organ yang sangat bergantung pada jaringan pembuluh darah kecil untuk menjalankan fungsinya menyaring darah. Ketika tekanan darah terus meningkat dalam waktu lama, pembuluh darah kecil di ginjal dapat mengalami kerusakan.
Kerusakan ini menyebabkan perubahan pada jaringan ginjal, termasuk gangguan suplai oksigen dan peningkatan stres oksidatif. Lingkungan sel yang mengalami stres kronis seperti ini dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya perubahan genetik yang berperan dalam pembentukan kanker.
Selain itu, hipertensi juga sering berjalan beriringan dengan obesitas dan resistensi insulin, yang semakin memperbesar risiko gangguan metabolik pada ginjal.
Simak Video " Mitos atau Fakta: Nyeri Punggung Selalu Jadi Tanda Kanker Ginjal? "
(mal/up)