Tren Lemak Sapi 'Beef Tallow' Naik Daun, Lebih Sehat dari Minyak Goreng Biasa?

Kolom Gizi

Tren Lemak Sapi 'Beef Tallow' Naik Daun, Lebih Sehat dari Minyak Goreng Biasa?

detikHealth
Rabu, 08 Apr 2026 07:06 WIB
Fitri Isnia Nuryani, S.Pt
Ditulis oleh:
Fitri Isnia Nuryani, S.Pt
Sarjana peternakan dari IPB University dengan peminatan pada nutrition and feed technology. Saat ini merupakan peserta program Maganghub Kementerian Ketenagakerjaan, sebagai penulis artikel gaya hidup
Macro of strips of bacon cooking in a frying pan.
Foto: Getty Images/iStockphoto/mphillips007
Jakarta -

Beef tallow kembali ramai dibicarakan dan digunakan sebagai alternatif minyak goreng. Lemak sapi yang dulu sempat tergeser oleh minyak nabati ini kini naik daun lagi, terutama di kalangan diet seperti keto dan carnivore yang menekankan konsumsi lemak hewani. Di media sosial, beef tallow juga kerap dipromosikan sebagai pilihan yang lebih "alami", bahkan muncul narasi yang menyebutnya lebih baik dibanding seed oils atau minyak nabati.

Menariknya, tren ini bukan hal baru. Sebelum minyak nabati populer seperti sekarang, beef tallow justru pernah menjadi salah satu bahan utama untuk memasak, termasuk menggoreng. Kini, di tengah meningkatnya kekhawatiran terhadap minyak olahan, bahan ini seolah "kembali" dengan citra yang lebih sehat.

Namun, di balik tren tersebut, muncul pertanyaan penting: benarkah beef tallow memang lebih baik untuk kesehatan? Atau justru klaim ini hanya sebagian cerita yang belum sepenuhnya dipahami?

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

ADVERTISEMENT

Apa Itu Beef Tallow dan Bagaimana Karakteristiknya?

Beef tallow adalah lemak sapi yang diperoleh melalui proses rendering, yaitu pemanasan jaringan lemak untuk memisahkan lemak murni dari air dan sisa jaringan. Dalam ilmu pangan, lemak seperti tallow diketahui tersusun terutama dari trigliserida, yakni bentuk utama lemak dalam bahan makanan, sebagaimana dijelaskan oleh Food and Agriculture Organization.

Secara fisik, beef tallow umumnya berwarna putih hingga kekuningan dan berbentuk padat pada suhu ruang. Sifat ini berkaitan dengan komposisi asam lemaknya. Sejumlah penelitian di jurnal Meat Science dan Journal of Food Science menunjukkan bahwa beef tallow didominasi oleh lemak jenuh sekitar 50-60%, serta lemak tak jenuh tunggal sebagai komponen utama lainnya. Kandungan lemak jenuh yang relatif tinggi ini membuat titik lelehnya lebih tinggi dibanding banyak minyak nabati, sehingga berbentuk padat pada suhu ruang.

Selain itu, komposisi tersebut juga berpengaruh pada stabilitasnya saat dipanaskan. Dalam kajian yang dipublikasikan di Journal of Food Science dan Frontiers in Nutrition, lemak dengan kandungan lemak tak jenuh ganda yang rendah seperti beef tallow, cenderung lebih tahan terhadap oksidasi, sehingga relatif stabil digunakan untuk memasak pada suhu tinggi. Secara teknis, data dari American Oil Chemists' Society juga menunjukkan bahwa titik asap beef tallow berada di kisaran sekitar 200-250°C.

Dari sisi rasa, beef tallow memiliki aroma dan cita rasa khas yang lebih gurih dibandingkan minyak nabati, sehingga sering digunakan untuk memberikan rasa yang lebih "rich" pada masakan. Kombinasi antara stabilitas panas dan karakter rasa inilah yang membuat beef tallow kembali dilirik, meskipun komposisi lemaknya tetap perlu diperhatikan dalam konteks kesehatan.

Perbedaan Beef Tallow dan Minyak Goreng Biasa

Perbedaan utama antara beef tallow dan minyak goreng biasa terletak pada asal bahan serta komposisi jenis lemaknya. Beef tallow berasal dari lemak hewani, sedangkan minyak goreng yang umum digunakan, seperti minyak sawit, kedelai, atau kanola, berasal dari tumbuhan. Perbedaan ini berpengaruh langsung pada kandungan asam lemak di dalamnya.

Dalam laporan Food and Agriculture Organization serta berbagai publikasi di Journal of Food Composition and Analysis, beef tallow diketahui mengandung sekitar 50-60% lemak jenuh, 30-40% lemak tak jenuh tunggal atau Monounsaturated Fatty Acid (MUFA), dan hanya sekitar 3-5% lemak tak jenuh ganda Polyunsaturated Fatty Acids (PUFA).

Sebaliknya, minyak nabati umumnya memiliki proporsi lemak tak jenuh yang lebih tinggi. Sebagai contoh, minyak sawit mengandung sekitar 45-50% lemak jenuh dan 50-55% lemak tak jenuh, minyak kedelai sekitar 15-20% lemak jenuh dan 80-85% lemak tak jenuh (didominasi PUFA), sedangkan minyak kanola hanya sekitar 7-10% lemak jenuh dan lebih dari 90% lemak tak jenuh, terutama MUFA.

Perbedaan jenis lemak tak jenuh ini juga berpengaruh pada efeknya di dalam tubuh. Lemak tak jenuh tunggal (MUFA), seperti yang banyak ditemukan pada minyak kanola atau zaitun, diketahui dapat membantu menurunkan kadar LDL (Low Density Lipoprotein) atau kolesterol "jahat" sekaligus menjaga atau meningkatkan HDL (High Density Lipoprotein) atau kolesterol "baik".

Sementara itu, lemak tak jenuh ganda (PUFA), yang banyak terdapat pada minyak kedelai dan minyak jagung, tidak hanya membantu menurunkan LDL, tetapi juga menyediakan asam lemak esensial seperti omega-6 dan omega-3 yang dibutuhkan tubuh. Hal ini dijelaskan dalam berbagai kajian di jurnal Circulation dan laporan Food and Agriculture Organization.

Namun, bukan berarti semua minyak nabati selalu unggul dalam semua kondisi. Beberapa minyak dengan kandungan lemak tak jenuh ganda tinggi lebih rentan terhadap oksidasi saat dipanaskan berulang kali, sebagaimana dibahas dalam Journal of Food Science. Di sisi lain, beef tallow yang lebih stabil secara oksidatif cenderung lebih tahan digunakan pada suhu tinggi.

Dengan demikian, perbedaan antara beef tallow dan minyak goreng biasa tidak hanya terletak pada asalnya, tetapi juga pada komposisi lemak dan dampaknya terhadap kesehatan, sehingga pemilihannya perlu disesuaikan dengan kebutuhan dan pola konsumsi secara keseluruhan.

Benarkah Beef Tallow Lebih Sehat? Ini yang Perlu Dipahami di Balik Tren

Popularitas beef tallow tidak lepas dari berbagai tren yang berkembang, mulai dari kuliner hingga gaya hidup. Dalam dunia memasak, tallow kembali digunakan karena memberikan rasa gurih khas dan dianggap sebagai bahan yang lebih "alami". Bahkan, pada beberapa hidangan, seperti penggunaan wagyu tallow, lemak ini dimanfaatkan untuk meningkatkan cita rasa.

Selain itu, beef tallow juga mulai dilirik sebagai tambahan lemak dalam Makanan Pendamping ASI (MPASI), karena dianggap dapat membantu memenuhi kebutuhan energi dari lemak.

Namun, dalam panduan MPASI dari World Health Organization, yang ditekankan adalah pemberian makanan yang beragam untuk memenuhi kebutuhan gizi anak, termasuk dari berbagai sumber pangan. Pedoman ini tidak secara spesifik merekomendasikan satu jenis lemak tertentu, sehingga tidak ada keharusan menggunakan beef tallow sebagai sumber lemak dalam MPASI.

Di luar kuliner, tren penggunaan beef tallow juga merambah ke dunia skincare dalam bentuk tallow balm. Produk ini diklaim dapat melembapkan kulit karena profil asam lemaknya dianggap mirip dengan sebum alami, serta mengandung vitamin larut lemak.

Namun, dari sudut pandang dermatologi, penggunaan lemak hewani tidak selalu cocok untuk semua jenis kulit. Dalam publikasi di Journal of the American Academy of Dermatology, bahan yang bersifat berat dan oklusif dapat berisiko menyumbat pori, terutama pada kulit yang rentan berjerawat.

Tren ini juga didorong oleh narasi "kembali ke alami" atau back to basics, di mana sebagian orang menganggap lemak hewani lebih baik dibandingkan minyak nabati olahan (seed oils). Padahal, perbedaan utamanya bukan sekadar berasal dari hewani atau nabati, melainkan pada jenis lemak yang dikandungnya.

Dalam konteks kesehatan, berbagai kajian di jurnal Circulation dan The American Journal of Clinical Nutrition menunjukkan bahwa mengganti lemak jenuh-yang lebih banyak terdapat dalam beef tallow-dengan lemak tak jenuh yang umum ditemukan pada minyak nabati, berkaitan dengan penurunan risiko penyakit jantung. Sebaliknya, konsumsi lemak jenuh berlebih dapat meningkatkan risiko kardiovaskular.

Beberapa penelitian menyoroti kandungan dalam beef tallow, seperti asam oleat dan conjugated linoleic acid (CLA), yang dalam studi laboratorium dikaitkan dengan efek metabolik dan antiinflamasi. Namun, hingga saat ini, bukti pada manusia masih terbatas dan belum menunjukkan manfaat yang konsisten.

Dengan demikian, meskipun beef tallow memiliki sejumlah kandungan yang berpotensi bermanfaat, klaim bahwa bahan ini lebih sehat dari minyak goreng biasa tidak sepenuhnya didukung oleh bukti ilmiah. Penggunaannya tetap perlu disikapi dengan bijak, terutama jika dikonsumsi dalam jumlah berlebihan.

Perlukah Mengganti Minyak Goreng dengan Beef Tallow?

Setelah melihat berbagai klaim dan tren yang berkembang, pertanyaan yang sering muncul adalah: apakah perlu mengganti minyak goreng sehari-hari dengan beef tallow?

Jawaban singkatnya: tidak perlu. Tidak ada rekomendasi yang menganjurkan penggantian total minyak nabati dengan beef tallow dalam pola makan sehari-hari. Alih-alih fokus pada satu jenis lemak tertentu, yang lebih penting adalah bagaimana mengatur pola konsumsi lemak secara keseluruhan.

Dalam praktiknya, pemilihan minyak sebaiknya disesuaikan dengan kebutuhan dan kebiasaan makan. Untuk penggunaan harian, minyak nabati yang kaya lemak tak jenuh tetap menjadi pilihan utama. Sementara itu, beef tallow bisa digunakan sesekali, misalnya untuk variasi rasa atau jenis masakan tertentu, tanpa harus menjadi sumber lemak utama.

Pada akhirnya, memilih minyak bukan soal mengikuti tren, tetapi tentang membangun pola makan yang konsisten dan sesuai kebutuhan tubuh.

Halaman 2 dari 4


Simak Video "Video: Takjil Kurma Ditambah Butter, Berapa Kalorinya?"
[Gambas:Video 20detik]
(fti/up)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads