Nasi Panas Vs Nasi Dingin Dihangatkan, Ini Perbandingan Risiko dan Manfaatnya

Kolom Gizi

Nasi Panas Vs Nasi Dingin Dihangatkan, Ini Perbandingan Risiko dan Manfaatnya

detikHealth
Jumat, 24 Apr 2026 19:11 WIB
Fitri Isnia Nuryani, S.Pt
Ditulis oleh:
Fitri Isnia Nuryani, S.Pt
Sarjana peternakan dari IPB University dengan peminatan pada nutrition and feed technology. Saat ini merupakan peserta program Maganghub Kementerian Ketenagakerjaan, sebagai penulis artikel gaya hidup
Nasi Panas Vs Nasi Dingin Dihangatkan, Ini Perbandingan Risiko dan Manfaatnya
Nasi panas vs nasi dingin. Foto: iStock
Jakarta -

Banyak orang mulai mengganti nasi hangat dengan nasi dingin-atau nasi sisa yang dipanaskan ulang karena dianggap lebih "ramah" untuk gula darah. Tren ini bukan tanpa dasar: proses pendinginan dapat meningkatkan kandungan pati resisten yang dicerna lebih lambat, sehingga lonjakan gula darah cenderung lebih terkendali.

Namun di balik manfaat tersebut, ada satu hal yang sering luput dari perhatian: cara menyimpan dan menghangatkan nasi justru bisa membuka peluang kontaminasi bakteri jika tidak dilakukan dengan benar.

Lalu, sebenarnya mana yang lebih baik nasi dingin atau nasi hangat? Apakah benar nasi dingin lebih sehat, atau justru lebih berisiko?

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

ADVERTISEMENT

Kenapa Nasi Didinginkan Lalu Dihangatkan Bisa Lebih Ramah Gula Darah?

Fenomena ini berkaitan dengan perubahan struktur pati dalam nasi setelah dimasak, didinginkan, lalu dipanaskan kembali. Proses pendinginan memicu retrogradasi, yaitu perubahan struktur pati yang membuat sebagian pati menjadi resistant starch, jenis pati yang lebih sulit dicerna di usus halus. Akibatnya, pelepasan glukosa ke dalam darah berlangsung lebih lambat dibanding nasi hangat yang baru matang, sehingga respon gula darah setelah makan cenderung lebih rendah.

Menariknya, efek ini tidak sepenuhnya hilang meskipun nasi dipanaskan kembali. Studi yang dipublikasikan dalam Asia Pacific Journal of Clinical Nutrition (2015) menunjukkan bahwa nasi yang dimasak, kemudian didinginkan selama 24 jam dan dipanaskan ulang, memiliki kandungan pati resisten lebih dari dua kali lipat dibanding nasi segar, serta menghasilkan respon glukosa yang lebih rendah secara signifikan. Temuan ini menunjukkan bahwa sebagian struktur pati yang telah berubah tetap stabil meski terkena panas kembali.

Meski demikian, penting untuk dipahami bahwa efek ini tidak terlalu besar. Artinya, nasi yang didinginkan dan dipanaskan ulang memang bisa menjadi pilihan yang sedikit lebih "ramah" untuk gula darah, tetapi bukan berarti bebas dampak.

Seberapa Besar Efeknya?

Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa perubahan pada nasi yang didinginkan lalu dipanaskan ulang memang terukur, meski tidak terlalu besar. Dalam studi yang dipublikasikan di Asia Pacific Journal of Clinical Nutrition (2015), kandungan pati resisten pada nasi meningkat dari sekitar 0,64 gram menjadi 1,65 gram per 100 gram setelah didinginkan dan dipanaskan kembali, atau naik lebih dari 2,5 kali lipat. Peningkatan ini berkaitan dengan proses pembentukan resistant starch selama pendinginan.

Semakin tinggi kandungan pati resisten, semakin lambat pati dicerna menjadi glukosa, sehingga respon gula darah cenderung lebih rendah. Dari sisi respons gula darah, penelitian yang sama juga menemukan adanya penurunan. Area respons glukosa darah setelah makan nasi yang didinginkan dan dipanaskan ulang tercatat lebih rendah dibanding nasi hangat segar, dengan selisih yang secara umum berada di kisaran sekitar 10-15 persen. Artinya, tubuh menyerap glukosa sedikit lebih lambat, sehingga lonjakan gula darah tidak setinggi saat mengonsumsi nasi baru matang.

Meski demikian, efek ini tidak selalu sama pada setiap orang atau kondisi. Jenis beras, lama pendinginan, cara pemanasan ulang, hingga kombinasi makanan lain dalam satu porsi dapat memengaruhi hasil akhirnya. Karena itu, nasi dingin yang dipanaskan ulang bisa menjadi strategi kecil untuk membantu mengontrol gula darah, tetapi tetap perlu diimbangi dengan pola makan secara keseluruhan.

Masalahnya Bukan di Nasinya, Tapi Cara Menyimpannya

Di balik manfaatnya untuk gula darah, nasi yang didinginkan lalu dipanaskan ulang juga memiliki potensi risiko yang sering luput diperhatikan, yaitu kontaminasi bakteri. Salah satu yang paling sering dikaitkan dengan nasi adalah Bacillus cereus, bakteri yang secara alami terdapat pada beras mentah dan mampu bertahan dalam bentuk spora meski telah dimasak.

Masalah muncul ketika nasi yang sudah matang dibiarkan terlalu lama pada suhu ruang. Dalam rentang suhu sekitar 5-60°C, atau zona bahaya, bakteri dapat berkembang dengan cepat. Pada suhu optimal (sekitar 30-37°C), jumlahnya bahkan bisa berlipat ganda setiap 20-30 menit.

Secara ilmiah, gejala keracunan makanan umumnya mulai muncul ketika jumlah bakteri mencapai sekitar 10⁵ hingga 10⁸ per gram makanan, sebagaimana dilaporkan oleh European Food Safety Authority serta penelitian Granum dan Lund dalam jurnal FEMS Microbiology Letters. Jumlah ini dapat tercapai dalam beberapa jam jika nasi tidak segera didinginkan setelah dimasak.

Selain itu, bakteri ini dapat menghasilkan toksin yang tidak mudah rusak, sehingga pemanasan ulang tidak selalu menjamin keamanan. Meski begitu, banyak orang tetap merasa aman karena tidak selalu menimbulkan gejala, biasanya karena jumlah bakteri atau toksin masih rendah, atau tubuh masih mampu mengatasinya.

Namun, jika paparan toksin sudah cukup tinggi, tubuh bisa kewalahan dan memicu gejala seperti mual, muntah, atau diare. Karena itu, risiko sebenarnya bukan pada nasi dingin itu sendiri, melainkan pada cara penyimpanan dan penanganannya setelah dimasak. Nasi yang segera didinginkan dan disimpan dengan benar relatif aman, sementara nasi yang dibiarkan terlalu lama di suhu ruang justru berisiko, meskipun akhirnya dipanaskan kembali.

Cara Aman Makan Nasi yang Disimpan

Agar tetap mendapatkan manfaat tanpa meningkatkan risiko, kuncinya ada pada cara penyimpanan dan penanganannya. Berikut langkah yang bisa diterapkan:

  • Jangan biarkan nasi terlalu lama di suhu ruang. Nasi sebaiknya tidak didiamkan lebih dari 1-2 jam setelah dimasak. WHO menyarankan makanan segera disimpan dalam kondisi dingin untuk mencegah pertumbuhan bakteri.
  • Segera simpan di kulkas dalam wadah tertutup. Masukkan nasi ke kulkas (≤5°C) sesegera mungkin. Untuk keamanan dan kualitas, sebaiknya dikonsumsi dalam waktu 1-2 hari. Pendinginan ini juga membantu pembentukan resistant starch.
  • Panaskan kembali hingga benar-benar panas. Saat akan dimakan, panaskan nasi hingga panas merata (idealnya >70°C) untuk membantu membunuh bakteri yang mungkin berkembang.
  • Jangan mengandalkan pemanasan ulang sepenuhnya. Perlu diingat, beberapa toksin bakteri tidak selalu hilang meski sudah dipanaskan kembali, sehingga cara penyimpanan tetap menjadi faktor utama.
  • Hindari menyimpan terlalu lama di mode "warm". Menyimpan nasi di rice cooker dalam kondisi hangat terlalu lama justru berisiko, karena suhunya berada dalam rentang yang mendukung pertumbuhan bakteri.

Dengan langkah-langkah ini, nasi yang didinginkan lalu dipanaskan ulang tetap bisa menjadi pilihan yang lebih ramah untuk gula darah, tanpa mengorbankan keamanannya.

Halaman 2 dari 3


Simak Video "Video: Takjil Kurma Ditambah Butter, Berapa Kalorinya?"
[Gambas:Video 20detik]
(fti/up)
Waspadai Ancaman Gula
15 Konten
Ancaman gula berlebih dalam kehidupan sehari-hari tidak bisa diremehkan. Baik yang tidak disadari keberadaannya, disadari tapi tak dipedulikan, maupun yang sudah ternormalisasi. Dampaknya fatal, bisa memicu diabetes: mother of all diseases.
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads